Di Indonesia, semangat mencintai tanah air dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga kerukunan, dan ikut merawat kedamaian di tengah keberagaman.

Nasihat Ketiga tentang Islam sebagai Agama Perdamaian

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi bagian penting dalam peringatan Idul Adha. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan hewan kurban.

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Peristiwa itu menunjukkan bahwa Islam tidak dibangun di atas kekerasan, melainkan ketundukan kepada Allah SWT dan kasih sayang kepada sesama.

Ibadah kurban juga mengandung nilai sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kaum dhuafa, sehingga kebahagiaan Idul Adha dapat dirasakan bersama.

Menjaga Persaudaraan di Tengah Kehidupan Modern

Tiga pesan Rasulullah SAW pada bulan Dzulhijjah tetap relevan hingga sekarang. Ketika masyarakat mudah terpecah karena perbedaan pandangan, Islam justru mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia.

Umat Islam juga diingatkan agar tidak menjadikan agama sebagai alasan permusuhan. Sebaliknya, ajaran Islam hadir membawa ketenangan, keadilan, dan kepedulian sosial.

Melalui momentum Dzulhijjah dan Idul Adha, umat Islam diajak kembali memperkuat ketakwaan, menjaga persaudaraan, serta mencintai tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.