Khutbah Rasulullah SAW Saat Idul Adha

Pada hari penyembelihan kurban, Rasulullah SAW pernah menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan Nabi bertanya tentang hari, negeri, dan bulan yang sedang mereka jalani.

Setelah para sahabat menjawab bahwa semuanya merupakan waktu dan tempat yang dimuliakan, Rasulullah SAW bersabda bahwa darah, harta, dan kehormatan sesama manusia juga harus dijaga sebagaimana sucinya hari, negeri, dan bulan tersebut.

Pesan itu disampaikan berulang kali sebagai peringatan agar umat Islam tidak mudah merusak persaudaraan maupun melakukan tindakan yang menimbulkan permusuhan.

Nasihat Pertama tentang Ketakwaan dan Amal Kebaikan

Pelajaran pertama dari khutbah Rasulullah SAW ialah pentingnya membimbing umat menuju ketakwaan. Seorang pemimpin maupun tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab mengingatkan umat tentang waktu-waktu mulia agar dimanfaatkan untuk mendekat kepada Allah SWT.

Memuliakan bulan haram dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah sunnah, menjaga lisan, membantu sesama, serta menjauhi pertikaian dan fitnah.

Dzulhijjah menjadi kesempatan bagi umat Islam memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Nasihat Kedua tentang Cinta Tanah Air

Rasulullah SAW dalam khutbahnya menyebut kata balad yang berarti negeri atau tanah air. Penyebutan itu menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kecintaan terhadap tempat tinggal dan lingkungan masyarakatnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah yang mewajibkan atasmu Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan engkau ke tempat kembali (Makkah).” (QS. Al-Qashash: 85)

Kecintaan Rasulullah SAW kepada Makkah dan Madinah menjadi teladan bagi umat Islam untuk menjaga negerinya dari perpecahan, permusuhan, dan tindakan yang merusak persatuan.