Kesadaran masyarakat Indonesia menggunakan sunscreen memang meningkat. Namun, masih banyak kesalahan dalam pemakaiannya.

Direktur Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja, mengingatkan bahwa memilih sunscreen tidak bisa hanya berdasarkan SPF tinggi atau sekadar ikut tren.

>>> Perbandingan Harga Tiket Konser BTS di Jakarta dan Singapura

"Bukan berarti SPF tinggi proteksinya paling bagus.

Yang penting cocok dengan kulit dan digunakan sesuai kebutuhan," kata dr. Eddy di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

SPF Tinggi Bukan Jaminan

SPF atau Sun Protection Factor menggambarkan seberapa lama kulit terlindungi sebelum terbakar. Namun, dr. Eddy mencontohkan, untuk aktivitas singkat seperti menyebrang jalan, SPF 30 sudah cukup.

Masyarakat Indonesia dengan kulit sawo matang relatif lebih tahan terhadap sinar matahari. Meski begitu, perlindungan tetap penting, terutama saat cuaca panas ekstrem.

"Indonesia UV index-nya lumayan tinggi. Jadi tetap hindari paparan yang tidak perlu, pakai baju yang menutupi, dan gunakan sunscreen," ujarnya.

Kesalahan Memaksakan Produk Viral

Dr. Eddy juga menyoroti kebiasaan memaksakan produk tertentu hanya karena viral. Akibatnya, kulit bisa merah, perih, sensitif, atau jerawatan.

"Kadang ada pasien bilang sunscreen ini terlalu berat, bikin jerawatan, bikin iritasi. Jadi kita cari lagi yang cocok," katanya.

Tanda sunscreen tidak cocok bervariasi, mulai dari kulit merah, iritasi, hingga muncul jerawat.

Dokter Eva Mulia Clinic, dr. Lie Man, juga mengingatkan agar tidak tergoda produk instan yang menjanjikan glowing cepat.

Produk semacam itu justru bisa menyebabkan kulit sensitif, merah, bentol, atau jerawat.

>>> Pemkab Tangerang Antisipasi PHK Akibat Pelemahan Rupiah

Dalam jangka panjang, penggunaan produk tidak jelas bisa merusak skin barrier hingga menyebabkan ochronosis, yaitu kulit menghitam seperti metal.