Pertumbuhan adopsi AI di dalam negeri didukung oleh ekspansi infrastruktur cloud dan GPU dari korporasi global seperti Amazon Web Services (AWS) dan Nvidia.

Situasi ini seperti pedang dua sisi yang membawa kemudahan sekaligus risiko keamanan.

Menurut Fetra, pelaku usaha sekarang wajib membangun tata kelola AI serta memastikan pemanfaatannya tetap terkontrol. Pendekatan keamanan siber lama yang bersifat reaktif sudah tidak mumpuni menghadapi serangan otomatis.

Platform Vision One dan Digital Twin

Untuk merespons situasi tersebut, TrendAI menghadirkan platform Vision One yang terintegrasi dengan model AI internal bernama Cybertron.

Sistem ini dirancang menggunakan basis data keamanan siber milik Trend Micro selama lebih dari 35 tahun.

Salah satu fitur unggulannya adalah Digital Twin yang berfungsi membuat replika virtual dari lingkungan digital perusahaan.

Replika tersebut kemudian diuji dan disimulasikan oleh AI selama 24 jam nonstop untuk memprediksi potensi ancaman.

"TrendAI Vision One menghasilkan pendekatan 'AI melawan AI', di mana AI yang kami kembangkan dipakai untuk memprediksi berbagai serangan siber yang juga digerakkan oleh AI," tutur Fetra.

Layanan ini diharapkan membantu manajemen perusahaan memetakan perangkat, aplikasi, hingga aktivitas digital yang rawan menjadi celah keamanan. Deteksi dini bisa meminimalkan dampak serangan.

Fetra menambahkan bahwa metode pengujian keamanan berkala sudah tidak efektif karena AI bekerja mencari celah setiap hari. Perusahaan perlu menginventarisasi tools AI karyawan serta memperkuat perlindungan data internal.

>>> Kemenag Kembangkan Kecerdasan Buatan untuk Layanan Publik

"Pada akhirnya, AI bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan fondasi baru yang akan menjadi bagian dari berbagai sistem digital di masa depan," pungkas Fetra.