Kontroversi seputar drama MBC "Perfect Crown" terus memanas meski serial telah berakhir.

Sejarawan dan tokoh publik mengecam apa yang mereka sebut sebagai distorsi sejarah berulang dalam drama fantasi Korea.

>>> Disney Bawa Star Wars ke Ketinggian 500 Meter untuk Promosi Film Terbaru

Serial yang berjudul asli "21st Century Grand Prince's Wife" ini berakhir pada 16 Mei dengan rating tertinggi 13,8 persen.

Drama ini juga sukses secara global di Disney+, dilaporkan menjadi serial Korea paling banyak ditonton di seluruh dunia dalam sebulan setelah rilis.

Namun, alih-alih merayakan rating, diskusi online justru berfokus pada ketidakakuratan sejarah dan simbolisme yang dinilai merendahkan kedaulatan Korea.

Kritik Terhadap Penggambaran Sejarah

Drama ini berlatar di Korea modern versi alternatif yang menganut monarki konstitusional. Banyak penonton awalnya menganggapnya sebagai fantasi romantis, bukan karya sejarah serius.

Namun, kritik menguat karena drama sejarah alternatif sebelumnya biasanya menyertakan penjelasan bagaimana monarki Korea bertahan hingga zaman modern.

Kritikus mengatakan "Perfect Crown" gagal membangun garis waktu fiksi yang meyakinkan meskipun menyimpang dari sejarah nyata Korea sekitar 200 tahun sebelumnya.

Kontroversi terbesar muncul saat adegan penobatan Grand Prince Ian yang diperankan Byeon Woo-seok.

Penonton menunjukkan bahwa kostum kerajaan dan bahasa upacara yang digunakan mirip dengan protokol negara bawahan di bawah kekaisaran China, bukan protokol kekaisaran merdeka.

Guru sejarah Korea terkemuka Choi Tae-sung mengkritik tim produksi secara terbuka. "Saya berharap produser menghormati sejarawan.

>>> Gang Dong-won Tampil Kocak dan Belajar Breakdance untuk Film 'Wild Sing'

Mengapa mereka rela menghabiskan ratusan juta won untuk biaya penampilan aktor tetapi enggan mengeluarkan sedikit pun untuk riset sejarah?"