>>> Fedi Nuril Antar Jenazah Ibunda ke TPU Karet Bivak, Tangis Pecah saat Pemakaman

“Pasar kerja Indonesia tidak sedang stagnan tetapi sedang berubah. Persoalannya bukan hanya soal kurangnya lapangan kerja, tetapi perubahan karakter pekerjaan dan kebutuhan skill,” ujarnya.

Kondisi ekonomi makro menunjukkan aktivitas produksi industri tetap berekspansi, namun indeks penambahan tenaga kerja permanen pada Maret 2026 berada di bawah 50 persen, tepatnya 48,76 persen.

Banyak perusahaan beralih melakukan efisiensi proses serta digitalisasi sistem kerja.

“Kata kuncinya adalah orchestrasi atau kolaborasi seluruh pihak tanpa mengesampingkan kewenangan masing-masing,” kata Budi.

Pemerintah daerah mengapresiasi dukungan organisasi pengusaha seperti Kamar Dagang dan Industri serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia dalam penyediaan lapangan kerja.

Penguatan sinergi dari hulu hingga hilir menjadi prioritas demi mendongkrak indeks pembangunan manusia.

“Selama ini program kerja dan magang sudah banyak, tinggal bagaimana menyelaraskan kebutuhan industri dengan skill pencari kerja,” ucapnya.

Pendidikan jangan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan bagaimana mendukung kebutuhan pencari kerja.

Sebagai data pembanding, BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Timur pada Agustus 2025 sebesar 3,88 persen, turun 0,31 persen dari periode sebelumnya.

Penurunan tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa.

Kondisi eksternal seperti tekanan geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran serta otomatisasi industri memicu perusahaan lebih selektif dalam merekrut tenaga kerja baru.

>>> Nikita Mirzani Optimistis Menang Gugatan PMH Rp 244 Miliar Melawan Reza Gladys

Penyelarasan ini diharapkan mampu meningkatkan keterhubungan antara pendidikan vokasi dengan sektor industri agar lulusan siap kerja.