Director of Security Technology & Strategy Akamai untuk Asia Pasifik dan Jepang, Reuben Koh, menyoroti risiko dari rapuhnya benteng pertahanan digital.

>>> Industri Animasi RI Tembus Rp798 Miliar, IP Lokal Kian Cuan

"Ketika API yang mendukung aplikasi AI terus bertambah dan menjadi blind spot, dampaknya bukan hanya meningkatnya risiko teknis.

Ini juga bisa memicu gangguan layanan besar, biaya pemulihan tinggi, hingga hilangnya kepercayaan," kata Reuben dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).

Data riset menunjukkan 72 persen korporasi mengaku sudah menaruh perhatian lebih pada keamanan API.

Namun, baru sekitar 19 persen yang benar-benar mengintegrasikan pengujian keamanan secara penuh dalam siklus pengembangan perangkat lunak.

Tantangan lain adalah perbedaan paradigma antara manajemen puncak dan tim teknis operasional.

Sebanyak 56 persen eksekutif tingkat atas merasa sangat siap menghadapi ancaman, sementara hanya 44 persen dari tim keamanan aplikasi yang memiliki keyakinan serupa.

Mayoritas perusahaan di Asia Pasifik sudah memasukkan API ke dalam kebijakan regulasi internal, namun implementasi praktis masih terbatas.

Hanya 63 persen perusahaan yang memasukkan API dalam proses penilaian risiko, dan hanya 40 persen yang menyertakan laporan API dalam sistem pelaporan resmi.

Akamai menilai lemahnya visibilitas terhadap API bukan hanya soal kebocoran data, tetapi juga tantangan kepatuhan serius di era AI.

Tanpa pemahaman mendalam tentang API yang beroperasi dan data yang dikelola, perusahaan terancam kesulitan memenuhi standar regulasi.

Untuk mengatasi hal ini, Akamai merekomendasikan peningkatan transparansi dan tata kelola API, serta integrasi pengujian keamanan sejak awal pengembangan perangkat lunak.

Akamai menekankan bahwa serangan API berbasis AI kini menjadi ancaman paling umum, dengan 43 persen responden mengakuinya sebagai ancaman utama.

India dan Singapura mencatat tingkat insiden tertinggi, masing-masing 93 persen dan 90 persen perusahaan terkena dampak.

>>> Modifikator Sukses Rakit Komputer Setipis Kartu Kredit, Tebal Hanya 1 mm

Jepang mengalami kerugian rata-rata terbesar, mencapai 1,59 juta dolar AS per insiden, diikuti Singapura dengan 1,33 juta dolar AS.