China kembali menunjukkan kemandirian teknologinya dengan meluncurkan superkomputer bernama LineShine.

Mesin raksasa ini sepenuhnya menggunakan komponen buatan dalam negeri, tanpa bergantung pada GPU Barat seperti Nvidia atau AMD.

>>> Google Perbarui Aplikasi Gemini dengan Desain Neural Expressive

LineShine dikembangkan oleh National Supercomputing Center di Shenzhen. Superkomputer ini hadir dengan arsitektur unik yang hanya mengandalkan prosesor pusat atau CPU.

Alih-alih menggunakan GPU untuk tugas kecerdasan buatan dan simulasi sains, LineShine dirancang sebagai mesin CPU-only. Untuk menutupi absennya GPU, China merancang sistem dalam skala yang sangat masif.

Spesifikasi dan Performa LineShine

LineShine ditenagai oleh 40.960 prosesor LX2 berbasis arsitektur Armv9 yang dirancang khusus oleh Huawei.

Setiap prosesor LX2 memiliki 304 inti atau core, sehingga total core yang bekerja bersamaan mencapai sekitar 2.451.840 core.

Meski hanya mengandalkan CPU, performa LineShine tidak bisa diremehkan. Mesin ini diklaim mampu menghasilkan kinerja komputasi stabil di angka 1,54 Exaflops.

Pada skenario pelatihan model AI tertentu, kinerja puncaknya bisa melesat hingga 2,16 Exaflops.

Jika klaim ini terbukti konsisten, LineShine secara teoritis melampaui superkomputer tercepat AS, El Capitan, yang memiliki daya 1,8 Exaflops.

>>> Paus Leo XIV Siap Terbitkan Ensiklik Pertama Terkait AI

Untuk menunjang arsitektur tersebut, Huawei merancang prosesor LX2 dengan subsistem memori yang tidak lazim.

Tiap chip memadukan memori HBM bawaan 32 GB dengan bandwidth 4 TB/s, ditambah memori DDR5 eksternal 256 GB.

Respons Terhadap Embargo AS

Kehadiran LineShine merupakan respons langsung Beijing terhadap pengetatan embargo dari Washington. Selama bertahun-tahun, AS berasumsi bahwa memotong akses China ke GPU akan membatasi kemampuan komputasi negara tersebut.

Namun, peluncuran LineShine membuktikan sebaliknya. China berhasil membangun infrastruktur High-Performance Computing menggunakan teknologi silikon domestiknya.

Sistem komputasi raksasa ini akan difokuskan untuk membantu universitas dan lembaga penelitian di China. Aktivitasnya mencakup pelatihan model AI berskala besar, simulasi molekuler, hingga pemodelan iklim.

LineShine, yang juga kerap disebut Lingsheng, menjadi bukti bahwa blokade teknologi dari Amerika Serikat tidak mampu menghentikan ambisi China.

>>> Serangan API Berbasis AI Marak di Asia Pasifik, Kerugian Tembus Rp 17 Miliar

Peluncuran ini menjadi pukulan telak bagi kontrol ekspor AS karena berhasil dibangun tanpa satu pun GPU buatan Barat.