Para peneliti internasional berhasil mengembangkan PriMAT, sebuah model kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk melacak pergerakan beberapa spesies primata secara simultan di dalam hutan lebat.

Inovasi ini membawa perubahan signifikan dalam cara ilmuwan mengumpulkan data satwa liar.

>>> Asus Resmikan Exclusive Store Baru di Cibubur

Sebelumnya, peneliti biologi harus menghabiskan waktu berjam-jam di hutan dengan kondisi tidak nyaman hanya untuk mendapatkan rekaman video monyet yang jelas.

Metode tradisional ini sangat bergantung pada kekuatan fisik dan sering kali gagal karena keterbatasan perangkat kamera.

Kamera yang digunakan kerap kehilangan jejak hewan setelah mereka berpindah sejauh beberapa meter.

Metode otomatis seperti deteksi titik kunci (keypoint detection) juga hanya berfungsi baik di lingkungan yang stabil.

Keunggulan PriMAT dalam Pelacakan Satwa

PriMAT menggunakan teknik kotak pembatas (bounding boxes) untuk mendeteksi dan melacak primata. Sistem ini mampu mengunci target secara konsisten meskipun ada perubahan cahaya atau pergerakan kompleks.

Akurasi AI mencapai 83 persen dalam memprediksi identitas hewan hanya dari beberapa ratus bingkai video saat diuji pada lemur di alam liar.

Hasil serupa juga terbukti pada spesies lain seperti babon, gorila, dan simpanse.

Keunggulan utama PriMAT adalah analisis yang tidak harus dilakukan langsung di lapangan.

>>> Transformasi Digital dan Kedaulatan Data Nasional: Mengapa Cloud Sovereignty Menjadi Kunci

Ribuan jam rekaman video yang dikumpulkan peneliti selama bertahun-tahun kini dapat diproses secara otomatis dalam hitungan menit.

Meskipun masih dalam tahap awal pengembangan, efektivitas PriMAT membuka peluang bagi penemuan ilmiah yang sebelumnya terhalang oleh keterbatasan teknologi.

Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat penelitian konservasi dan perilaku primata di habitat aslinya.