TEM Presents dan Live Nation selaku promotor memberikan ruang yang cukup bagi penonton kelas festival untuk bergoyang dan menikmati konser dengan nyaman.

Pesan Perlawanan di Paruh Kedua

Di paruh kedua, ONE OK ROCK semakin menggila dengan lagu-lagu yang bersemangat dan berisi pesan perlawanan pada ketidakadilan.

Mereka mengawali dengan harmani Ryota, Toru, dan Tomoya yang memamerkan keahlian memainkan instrumen masing-masing. Setelah itu, C.

U. R.

I. O.

S. I.

T. Y.

dan Dystopia mengguncang Indonesia Arena.

Sebelum membawakan Delusion:All, Taka bercerita sedikit tentang proses pembuatan album Detox yang ia tahu mendapat respons bervariasi.

Lewat album itu, ONE OK ROCK menyuarakan keresahan melihat banyak pihak menjadi korban dari keegoisan kelompok.

Taka berharap album yang diproduseri oleh personel Green Day Rob Cavallo ini bisa mendetoksifikasi dari hal-hal negatif dan menjadi bentuk perlawanan terhadap distopia.

"Kami tidak bisa menghentikan itu, karena kami bukan pemerintah. Kami bukan barang politik, kami hanya band rock and roll.

Tapi kami bisa mengatakan sesuatu pada dunia, ini bukan sesuatu yang benar," ujar Taka.

Hal itu cukup mengagetkan. Pasalnya, bukan hal yang lazim bagi artis Jepang berbicara soal politik.

Namun, tak bisa dipungkiri, lirik lagu Delusion:all memang relevan dengan kondisi saat ini.

"Why does it feel like they don't feel anything?

/ I pray there's a future behind those walls, but maybe I'm delusional/ Let's make a deal, pretend this bastard democracy/ Is just how we want it and we're not exhausted," demikian petikan reff lagu ditulis oleh Taka bersama Jason Aalon Butler, Dan Lancaster, dan Tyler Carter.