Persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren mulai mendapat perhatian serius dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Purworejo.

Upaya ini bertujuan mengubah pandangan pengelola terhadap limbah agar menjadi berkah sekaligus sumber ekonomi.

>>> Profil Golshifteh Farahani Artis Keturunan Iran yang Dikabarkan jadi Selingkuhan Presiden Prancis Emmanuel Macron: Umur, Agama dan IG

Langkah nyata diwujudkan melalui Sarasehan Pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo yang mengusung tema "Revolusi Sampah Pesantren, Dari Masalah Jadi Berkah".

Acara ini digagas oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PCNU Purworejo.

Kegiatan berlangsung di gedung SMK Nurussalaf, kompleks Pondok Pesantren Nurussalaf Kemiri, pada Ahad (17/5/2026).

Sebanyak 61 perwakilan pondok pesantren NU dari berbagai wilayah di Purworejo turut hadir.

PR Besar Pengelolaan Sampah

Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR M Amir Kilal, menyatakan bahwa penumpukan limbah di lingkungan belajar santri merupakan tugas besar yang perlu segera ditangani.

"Tema ini kami angkat karena persoalan sampah di pondok pesantren memang menjadi PR besar," ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (18/5/2026).

Ia berharap para pengurus tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung mempraktikkan pengelolaan sampah di pondok masing-masing. Apresiasi datang dari Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH M Haekal.

Menurutnya, volume sampah di Purworejo mencapai ratusan ton per hari sehingga membutuhkan kepedulian kolektif, termasuk dari komunitas pesantren.

"Pesantren juga bagian dari masyarakat Purworejo, sehingga penting untuk ikut berperan dalam pengelolaan sampah," katanya.

Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo turut hadir memaparkan materi Eco-Pesantren. Program ini dirancang untuk mewujudkan kemandirian wilayah yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

Perwakilan DLHP Purworejo, Suci Indriasari, menjelaskan bahwa skema tersebut tidak hanya fokus pada kebersihan lingkungan asrama.