Program ini juga diproyeksikan sebagai percontohan edukasi kelestarian alam berbasis Islam yang mendatangkan profit finansial dan kelestarian ekologi.

Data DLHP menunjukkan porsi terbesar sampah di area asrama didominasi jenis organik dengan akumulasi 55 hingga 70 persen.

Potensi tersebut dapat diolah menjadi pupuk, biogas, hingga media budidaya maggot.

Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan kaleng aluminium dapat dialirkan ke Bank Sampah Asrama (BSA) untuk menghasilkan keuntungan ekonomi.

"Konsep ini menjadi jalan bagi pesantren untuk mengaplikasikan aksi peduli lingkungan hidup sekaligus aktualisasi keberkahan," kata Suci.

Inovasi dan Nilai Ekonomi

Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS), Andika Muhammad Nuur, membagikan skema pengelolaan yang telah berjalan di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta.

Gerakan tersebut dipicu oleh kondisi darurat penumpukan limbah di Kota Yogyakarta.

Para santri menggaungkan moto "Pilah, Olah, Berkah". Sistem manajemen di lokasi tersebut menerapkan pemisahan hingga 36 kategori berbeda.

Jumlah itu diklaim melebihi efisiensi pemilahan di beberapa negara maju seperti Jepang dan Swedia.

>>> Apa Itu Kartu Layanan Gratis Jakarta? Kartu Khusus Transportasi Publik yang Viral Dijual Ilegal

Melalui metode tersebut, pasokan sampah harian asrama yang semula mencapai dua ton berhasil ditekan signifikan hingga menyisakan sekitar 100 kilogram per hari.

"Dulu sampah dianggap kotor dan tidak berguna. Sekarang sampah itu investasi," ujar Andika.

Ia menambahkan, pihak pengelola sebelumnya harus mengalokasikan anggaran operasional hingga Rp 30 juta per bulan untuk biaya pembuangan.

Setelah penerapan sistem baru, lembaga justru meraup pemasukan bersih mencapai Rp 20 juta per bulan dari hasil penjualan limbah.

Selain membahas kelestarian lingkungan, agenda sarasehan diisi dengan sosialisasi Digdaya Pesantren NU oleh Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi.