Rasa kecewa akibat absennya trofi juara kompetisi resmi di bawah kepemimpinannya diakui akan terus membekas dalam memori perjalanannya.

"Saya gagal membawa Persija kembali menjadi juara liga di masa kepemimpinan saya. Dan itu akan selalu menjadi luka sekaligus penyesalan yang saya bawa," terang Diky.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf terbuka atas segala kekhilafan, keputusan yang kurang tepat, serta dinamika kepemimpinan yang barangkali sempat melukai perasaan anggotanya.

"Saya juga sadar selama enam tahun ini pasti banyak keputusan saya yang mengecewakan, banyak ucapan saya yang menyakiti, dan banyak harapan yang belum bisa saya wujudkan," ujar Diky.

Walakin, dirinya menggaransi bahwa setiap kebijakan yang diambil didasari oleh ketulusan rasa cinta yang mendalam terhadap eksistensi Persija Jakarta.

"Saya bukan ketua yang sempurna. Saya sering salah, sering gagal, dan mungkin belum bisa menjadi pemimpin yang menyenangkan untuk semua pihak."

Diky meyakini seluruh dinamika kepemimpinan didorong demi kebaikan korps, sebelum kemudian mengutarakan apresiasi bagi seluruh pengurus wilayah dan pusat yang terus mengawal perjalanannya.

"Tapi percayalah, tidak pernah sekalipun saya menjalankan amanah ini tanpa rasa cinta kepada Persija dan Jakmania," ucap Diky.

Kritik, saran, hingga dinamika perbedaan pendapat dipandang sebagai sebuah proses edukasi berharga untuk mematangkan seni kepemimpinan di organisasi suporter berskala besar.

"Terima kasih untuk semua yang pernah berdiri bersama saya.

Seluruh Pengurus Inti, Pengurus Wilayah, Pengurus Pusat, mantan pengurus, dan seluruh Jakmania yang mendukung, mengkritik, memarahi, bahkan yang membenci saya," terang Diky.

Ia berharap fondasi yang telah diletakkan mampu membuat wadah suporter ini bertransformasi menjadi organisasi yang jauh lebih kokoh dan dewasa di masa depan.