Upaya struktural terus digenjot agar eksistensi barisan pendukung di area tribun stadion tetap terjaga dengan manajemen organisasi yang jauh lebih tertata rapi.

"Banyak hal berhasil kita lewati bersama. Kita menjaga Jakmania tetap hidup di masa-masa sulit setelah pandemi."

Peningkatan aspek legalitas keanggotaan dan kejelasan identitas struktural menjadi fokus utama pembenahan kolektif yang dilakukannya selama dua masa jabatan.

"Kita membuat organisasi ini lebih tertata dengan sistem keanggotaan dan identitas yang lebih jelas. Kita menjaga tribun tetap ada ketika banyak orang meragukan," ucap Diky.

Langkah ekspansi kemitraan eksternal dengan beragam pemangku kepentingan turut dibuka lebar demi mendongkrak reputasi dan kehormatan organisasi di level nasional.

"Kita memperluas kolaborasi, membuka banyak pintu yang dulu tertutup, menjaga hubungan dengan banyak pihak, dan berusaha membuat nama Jakmania semakin dihormati sebagai kelompok suporter besar di Indonesia," tutur Diky.

Kendati berhasil melakukan berbagai reformasi tata kelola internal, ia mengakui adanya satu ambisi besar di bidang prestasi olahraga yang belum sempat terwujud nyata.

"Tapi saya tahu, semua itu tetap tidak akan pernah terasa cukup karena ada satu hal yang belum berhasil saya berikan, yaitu membawa Persija juara," papar Diky.

Ketidakberhasilan mengantarkan tim ibu kota meraih supremasi tertinggi di kancah liga domestik diakui menjadi sebuah utang emosional terbesar kepada seluruh elemen suporter.

"Dan untuk itu, saya minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh Jakmania.

>>> Nonton Link Streaming West Ham vs Arsenal Malam Ini Tidak Tayang di SCTV, Berikut Jadwal dan Link Live Streaming

Karena saya tahu, sebesar apa pun usaha yang sudah dilakukan, sebagus apa pun perbaikan yang terjadi, sebaik apa pun pandangan orang lain kepada kita, pada akhirnya yang paling diingat dalam sepak bola adalah piala."