McKinsey Global Institute memperkirakan pada 2030, antara 75 juta hingga 375 juta pekerja mungkin perlu beralih kategori pekerjaan, setara dengan sekitar 3% hingga 14% angkatan kerja global.

International Labour Organization (ILO) mencapai kesimpulan serupa namun lebih bernuansa.

Indeks global 2025 menemukan bahwa satu dari empat pekerja berada dalam pekerjaan dengan beberapa paparan AI generatif, sementara 3,3% pekerjaan global masuk kategori paparan tertinggi.

Pekerjaan klerikal tetap yang paling terpapar, dan ILO mengatakan transformasi pekerjaan adalah hasil yang lebih mungkin karena sebagian besar pekerjaan masih mencakup tugas yang membutuhkan masukan manusia.

Dampaknya juga bervariasi antarnegara.

Dalam analisis ILO sebelumnya, negara berpenghasilan tinggi menunjukkan paparan ketenagakerjaan sebesar 5,5% terhadap otomatisasi, dibandingkan dengan 0,4% di negara berpenghasilan rendah.

Teknologi mungkin global, tetapi efeknya bergantung pada infrastruktur, keterampilan, dan seberapa cepat perusahaan benar-benar mengadopsinya.

Yang Harus Diperhatikan Pekerja

Bagi pekerja, langkah teraman bukanlah panik, melainkan memperhatikan.

Jika sebagian besar pekerjaan Anda melibatkan mengubah informasi menjadi kata-kata, jawaban, rencana, ringkasan, pelajaran, naskah, atau rekomendasi, AI sudah mengetuk pintu Anda.

Itu tidak berarti semuanya akan hilang. Banyak peran akan berubah, dan beberapa mungkin justru menjadi lebih bernilai dengan bantuan AI.

>>> FIFA Ubah Jadwal Inggris vs Meksiko di Piala Dunia karena Cuaca Buruk

Kuncinya adalah beradaptasi, mempelajari alat baru, dan fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan penilaian manusia, kreativitas, dan empati.