Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar wacana masa depan.

Saat ini, AI telah membantu menulis surel, meringkas laporan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan mengolah data yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam.

>>> Dark Horse Rilis Edisi Kedua Buku Seni Deva Zan Karya Yoshitaka Amano dengan Sampul Baru

Namun, dampak disruptif AI tidak merata. Sejumlah riset menunjukkan gelombang pertama gangguan justru menimpa pekerjaan informasi, bukan pekerjaan fisik seperti di pabrik.

10 Pekerjaan Paling Terpapar AI

Microsoft Research menganalisis sekitar 200.000 percakapan Bing Copilot dan menemukan bahwa aktivitas kerja yang paling sering menggunakan AI adalah mengumpulkan informasi dan menulis.

Berdasarkan peringkat kesesuaian AI versi Microsoft, 10 pekerjaan paling terpapar meliputi penerjemah dan juru bahasa, sejarawan, penulis dan pengarang, wiraniaga jasa, pemrogram alat mesin CNC, penyiar dan penyiar radio, petugas layanan pelanggan, telemarketer, ilmuwan politik, dan matematikawan.

Apa yang menghubungkan profesi yang beragam itu? Sebagian besar bergantung pada bahasa, informasi, penjelasan, persuasi, atau pemecahan masalah terstruktur.

AI dapat mengambil alih sebagian alur kerja, seperti menyusun teks, menyiapkan respons pelanggan, menerjemahkan kalimat, atau membantu mengatur riset.

Pekerjaan lain yang juga berada di zona bahaya meliputi jurnalis, penulis teknis, korektor, editor, spesialis humas, ilmuwan data, penasihat keuangan pribadi, pengembang web, analis manajemen, dan analis riset pasar.

Tidak semuanya akan lenyap. Banyak yang mungkin hanya berubah bentuk, tetapi perubahan itu tetap terasa dramatis bagi penghasilan seseorang.

Gelar Sarjana Bukan Tameng

Tingkat pendidikan tinggi tidak otomatis melindungi pekerja dari paparan AI.

Riset Microsoft menemukan kesesuaian AI yang luas di semua tingkat pendidikan, terutama pada pekerjaan berbasis alat digital dan tugas berat informasi.