Konsol saat ini berjalan di ambang batas. Kerusakan serius telah terjadi, tetapi rasa sakitnya belum sepenuhnya terasa.

Seperti petarung MMA yang tidak sadar lengannya patah, para produsen tetap menjalani rutinitas yang sama.

>>> Otoritas Tasmania Peringatkan Publik Jaga Jarak dari Neil si Anjing Laut

Di tengah kelangkaan komponen yang dipicu AI, konsol semakin terpuruk. Gaming tidak pernah semahal sekarang.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah sikap apatis terhadap generasi konsol berikutnya.

Kita sudah memasuki tahun ketujuh PS5 dan Xbox Series X.

Tuntutan pasar menginginkan kotak baru di rak media center, tetapi banyak faktor yang merugikan konsol saat ini justru akan memburuk di generasi baru.

Pertanyaannya: apakah ada yang benar-benar menginginkan konsol baru dalam waktu dekat?

Tantangan Harga dan Produksi

Nintendo Switch 2 nyaris tidak berhasil meluncur.

Bahkan Nintendo, yang strateginya berada di belakang prosesor mutakhir, terpaksa menaikkan harga akibat biaya produksi yang membengkak dan tarif AS.

Nintendo beruntung meluncurkan konsol terbarunya sebelum situasi memburuk.

Valve, pesaing baru di ruang keluarga, kurang beruntung.

Steam Machine dengan harga yang mencengangkan memberikan gambaran tentang apa yang akan dihadapi PS6 dan Xbox Project Helix.

Tidak ada yang puas dengan Steam Machine, termasuk Valve sendiri.

Valve berencana memberi harga lebih rendah, tetapi kenyataannya Steam Machine terlalu mahal untuk kemampuannya. Semuanya mahal saat ini.

Di dunia di mana Valve menjual konsol yang lebih lemah dari PS5 seharga $1.050, sulit membayangkan PS6 atau Xbox Project Helix bisa melewati hambatan harga.

Peningkatan performa semakin kecil dari generasi ke generasi. Jika harga konsol dinaikkan terlalu tinggi, ada risiko kehilangan relevansi.