Seorang peneliti Brasil berhasil mengidentifikasi lintasan pulang-pergi ke Mars dalam waktu 153 hari menggunakan data orbit awal asteroid.

Temuan ini dipresentasikan bertepatan dengan Hari Asteroid Internasional pada 2 Juli 2026.

>>> Anak Laki-Laki di Kanada Meninggal Akibat Rabies Setelah Terpapar Kelelawar

Marcelo de Oliveira Souza, kosmolog dari Universitas Negeri Rio de Janeiro Utara, menemukan rute ultra-cepat tersebut saat menganalisis data orbit awal asteroid 2001 CA21.

Lintasan ini berpotensi memangkas durasi misi yang biasanya bertahun-tahun menjadi hanya lima bulan.

"Saya tidak bekerja di badan antariksa," ujar Souza yang juga profesor di universitas tersebut.

Ia menggunakan alat astrodinamika standar untuk memproyeksikan lintasan pada jendela oposisi Mars mendatang, dan menemukan bahwa jendela 2031 sangat sesuai dengan geometri bidang asteroid.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Acta Astronautica ini mencatat bahwa perjalanan ke Mars dengan waktu tempuh 33 hari memerlukan kecepatan lepas landas 27 kilometer per detik, jauh melampaui kemampuan teknologi manusia saat ini.

"Ini mengejutkan saya. Saya tidak mencarinya," kata Souza.

Ia menekankan bahwa rute teoretis ini menunjukkan kemungkinan geometris, bukan cetak biru langsung untuk rekayasa pesawat ruang angkasa.

"Mungkin ini bisa mengubah anggapan bahwa kita butuh lebih dari dua tahun untuk pergi ke Mars dan kembali," tambahnya.

Ancaman Asteroid dan Seruan Pertahanan Planet

Sementara data asteroid membuka jalur navigasi baru, para ahli global memperingatkan bahwa identifikasi objek dekat Bumi tetap menjadi prioritas keamanan kritis bagi umat manusia.

"Orang akan terluka dan terbunuh," peringatan para ilmuwan seperti dilansir ABC News.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Hari Asteroid Internasional untuk memperingati peristiwa Tunguska 1908, menyoroti ancaman berkelanjutan dari objek luar angkasa yang tidak teridentifikasi.