Kenaikan impor mencerminkan peningkatan pembelian barang impor secara riil, terlihat dari impor mesin dan peralatan mekanis yang naik 16,92 persen.

Dari sisi ekspor, Josua menilai persoalannya bukan karena daya saing Indonesia langsung runtuh, melainkan tekanan sektoral dan siklikal.

Ekspor nonmigas turun 4,50 persen secara tahunan, dengan seluruh sektor mengalami penurunan.

>>> 5 Bocoran Spesifikasi Unggulan iPhone 18 Pro Max Tahun 2026

Namun, secara kumulatif Januari-Mei 2026, total ekspor masih tumbuh 3,02 persen dan ekspor nonmigas naik 3,89 persen.

Industri pengolahan bahkan masih tumbuh 6,80 persen.

Josua mengingatkan yang perlu diwaspadai adalah apabila kenaikan impor tidak diikuti peningkatan produksi dan ekspor dalam beberapa bulan ke depan.

Indeks manufaktur Juni 2026 turun menjadi 46,9 dari 50,0 pada Mei.

"Bila impor bahan baku naik tetapi produksi melemah, maka impor berubah dari tanda ekspansi menjadi kebocoran permintaan ke luar negeri.

Ini belum alarm merah, tetapi jelas lampu kuning," ujarnya.

Josua menyarankan pemerintah tidak membatasi impor secara luas, karena sebagian besar merupakan bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri.

Pemerintah sebaiknya memilah impor produktif dan konsumtif, mengurangi ketergantungan impor BBM, menjaga stabilitas rupiah, serta mendorong substitusi impor.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai defisit ini mengirim sinyal bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis.

Jika defisit terus berulang, investor akan meminta premi risiko lebih tinggi, yield SBN sulit turun, dan BI makin sulit melonggarkan bunga.

"Defisit ini belum berarti krisis, tetapi menandai fase baru, yakni stabilitas eksternal tidak lagi gratis dan ekonomi harus membayar lebih mahal untuk menjaga kepercayaan pasar," ujarnya.

Syafruddin juga menyoroti pelemahan daya saing Indonesia yang memperbesar tantangan ekspor.

Merujuk World Competitiveness Ranking 2026, posisi Indonesia turun ke peringkat 48 dari 70 negara, terkait efisiensi pemerintah, bisnis, dan infrastruktur.

Menurutnya, daya saing rendah berarti biaya logistik tinggi, kepastian kebijakan lemah, dan produktivitas rendah. Akibatnya, ekspor manufaktur bernilai tambah sulit tumbuh cepat dan Indonesia tetap bergantung pada komoditas.

Syafruddin menilai pemerintah perlu melakukan pembenahan struktural, seperti menekan defisit migas, memperluas basis manufaktur, memperbaiki logistik, dan memastikan hilirisasi tidak berhenti pada mineral tertentu.

>>> Mahasiswa Unair Gagas Buah Merah Papua untuk Terapi Osteoartritis

Disiplin fiskal juga harus dijaga agar defisit perdagangan tidak berubah menjadi krisis kepercayaan.