Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun di Kanada meninggal dunia akibat rabies setelah terbangun dengan seekor kelelawar di wajahnya saat liburan keluarga di Ontario pada 2024.

Laporan yang diterbitkan di Canadian Medical Association Journal pada Senin (7/10) mengungkapkan bahwa anak tersebut memukul kelelawar itu sebelum ayahnya menangkap dan melepaskannya di luar.

>>> VAURA Pilates Resmi Buka Studio Pertama di Indonesia, Target Pasar Wellness Premium

Orang tua tidak segera mencari perawatan medis karena anak tidak menunjukkan luka yang terlihat.

Gejala mulai muncul 19 hari kemudian, berupa mati rasa dan pembengkakan di wajah.

Beberapa kali kunjungan ke klinik dan rumah sakit awalnya menghasilkan diagnosis yang salah, yaitu Bell's palsy dan infeksi mulut, sebelum kondisinya memburuk dengan cepat.

Anak tersebut mengalami demam 39 derajat Celsius, kesulitan menelan, kebingungan, dan halusinasi, sehingga harus dirawat di unit perawatan intensif.

Dokter di University of Manitoba mencurigai rabies, yang kemudian dikonfirmasi oleh tes dan Badan Inspeksi Pangan Kanada.

>>> Lukaku Akui Takut Eksekusi Penalti saat Belgia Comeback Kalahkan Senegal

Anak itu meninggal 17 hari setelah dirawat di rumah sakit, meskipun tidak memiliki riwayat alergi atau perjalanan internasional baru-baru ini.

Infeksi rabies sangat jarang terjadi di Kanada, dengan hanya 28 kematian sejak 1924.

"Tingkat rabies yang rendah ini disebabkan oleh program vaksinasi yang luas dan berkelanjutan, dan kegagalan untuk melanjutkan program ini dapat dan akan mengakibatkan kembalinya penyakit," demikian pernyataan Canadian Veterinary Medical Association.

Laporan jurnal menekankan bahwa kontak langsung manusia dengan kelelawar memerlukan profilaksis pasca pajanan rabies segera.

>>> Harga Minyak Turun ke US$70,84 usai Perundingan AS-Iran Kelar

Infeksi virus menjadi hampir selalu fatal begitu gejala klinis muncul.