Menghadapi anak remaja yang mulai menutup diri sering menjadi tantangan besar bagi orang tua.

Banyak yang bingung ketika anak semakin jarang bercerita, sulit diajak bicara, hingga terlihat menjaga jarak.

>>> 17 Tahun Berlalu, Batman: Arkham Asylum Tetap Game Terbaik untuk Penggemar Batman

Psikolog Pritta Tyas mengungkapkan langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua bukan langsung memaksa anak untuk terbuka. Melainkan melakukan refleksi diri terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Pritta saat ditemui dalam acara Panduan Tenang Keluarga bersama Grab melalui layanan GrabKeluarga di Bale Nusa, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, orang tua perlu mengevaluasi apakah ada sikap atau ucapan yang tanpa sadar membuat anak memilih menutup diri.

"Coba refleksi dulu, apa yang saya katakan atau lakukan yang ikut menjadi faktor anak saya menutup diri," jelasnya.

Ia mencontohkan sikap yang terlalu menghakimi, seperti sering menyalahkan anak atau membuat keputusan sepihak tentang pertemanan, bisa menjadi pemicu renggangnya komunikasi.

Alih-alih terus mendesak anak untuk bercerita, Pritta menyarankan orang tua mencari aktivitas sederhana yang bisa dilakukan bersama tanpa tekanan.

Mulai dari bersepeda, jalan kaki saat akhir pekan, hingga sekadar jajan bersama bisa menjadi cara membangun kembali kedekatan emosional.

"Yang penting habiskan waktu bersama dulu. Jangan punya target harus langsung tahu masalah anak," ujarnya.

Menurutnya, ketika anak mulai merasa nyaman dan menikmati kebersamaan itu, biasanya mereka akan lebih terbuka dengan sendirinya.

>>> Secretlab Atlas: Kursi Kerja yang Lebih Baik dari Titan Evo untuk Gaming

Dari situ, orang tua bisa mulai masuk dengan pertanyaan ringan, seperti menanyakan hal-hal yang sedang anak sukai.

Tanda Remaja Mulai Mengalami Gangguan Kesehatan Mental