Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai lonjakan inflasi Indonesia pada Juni 2026 lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas yang bersifat fluktuatif, terutama bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan.

Karena dipicu faktor musiman, pemerintah memperkirakan tekanan inflasi akan berangsur mereda dalam beberapa bulan mendatang.

>>> Casio Luncurkan Jam Tangan Pro Trek PRJ-01 dengan Dial Analog, Pengisian Tenaga Surya, dan Klip Karabiner

Menurut Purbaya, kenaikan harga komoditas seperti cabai dan sejumlah bahan pangan lainnya merupakan fenomena musiman yang tidak mencerminkan tekanan inflasi jangka panjang.

Selain itu, penurunan harga minyak dunia diperkirakan akan diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman.

Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia.

Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa kondisi inflasi saat ini belum menunjukkan adanya lonjakan permintaan masyarakat yang berlebihan.

Hal tersebut terlihat dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada pada level relatif terkendali.

"Basically gitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya.

Purbaya menegaskan, kenaikan inflasi lebih disebabkan oleh faktor harga komoditas yang mudah berfluktuasi, bukan akibat meningkatnya permintaan domestik.

>>> Kisah Haru Pria 25 Tahun Bertubuh Bayi Akibat Kelainan Langka

"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil.