PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) memastikan tidak akan meminta tambahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan perseroan hanya menjaga ritme likuiditas dengan total dana penempatan sebesar Rp21 triliun.

>>> Investor China Garap Proyek Listrik dari Sampah di Kabupaten Bandung

"Kalau ditanya apakah mau berapa, ya enggak kita sesuai dengan angka yang semula aja. Karena kita kan lebih kepada menjaga ritmenya aja.

Kita enggak minta nambah, sama aja sesuai dengan awal-awal, BSI totalnya 21 triliun," kata Anggoro di BSI The Tower, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Penarikan Bertahap untuk Jaga Likuiditas

Menurut Anggoro, penarikan dana SAL di himbara tidak bisa dilakukan secara mendadak karena berpotensi mengganggu likuiditas perbankan.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar pemerintah melakukan proses penarikan secara bertahap. "Kita minta biar ditariknya bertahap.

>>> PGN Kaji Dampak Kebijakan Harga LNG US$13/MMBTU pada Kinerja Keuangan

Supaya kita bisa mengatur likuiditas yang lain," jelasnya.

Ia menambahkan, penarikan mendadak berisiko memicu gejolak pasar karena perbankan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kebutuhan likuiditasnya.

Kendati demikian, Anggoro menilai kondisi likuiditas perbankan pada semester II/2026 masih cukup memadai. Sebelum adanya kebijakan penempatan dana SAL, perbankan telah terbiasa mengelola likuiditas secara mandiri.

>>> Golkar Panggil Therensius Lazakar Terkait Dugaan Intimidasi ke dr. Icha

Sebagai informasi, dana SAL yang akan ditempatkan mencapai Rp400 triliun dan didistribusikan kepada lima bank BUMN, yaitu BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, dan BSI.