Bagi sebagian penumpang, mendarat adalah bagian paling menegangkan dari sebuah penerbangan. Namun di Bandara Internasional Paro (PBH) di Bhutan, ketegangan itu terasa berlipat.

Pesawat harus menukik tajam, berbelok di antara pegunungan, lalu mendarat di landasan sempit tanpa bantuan radar modern. Bandara ini dikenal sebagai salah satu yang paling sulit di dunia.

>>> Motor Jarang Dipakai? Ini Waktu Tepat Ganti Oli Mesin

Tak semua pilot diizinkan mendarat di sini.

Hanya mereka yang memiliki pelatihan khusus dan pengalaman terbatas yang boleh mengendalikan pesawat menuju Paro, yang diapit lembah dan pegunungan Himalaya.

Kondisi geografis ekstrem membuat proses pendaratan di Paro jauh dari kata biasa. Pilot harus mengandalkan kemampuan manual dan pemahaman detail terhadap kontur wilayah sekitar.

Kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Keahlian, konsentrasi, dan keberanian menjadi syarat mutlak untuk mendarat dengan aman.

Tantangan Pendaratan di Paro

Kapten Chimi Dorji, pilot Druk Air yang telah 25 tahun terbang, mengatakan Bandara Paro sulit tetapi tidak berbahaya.

"Memang menantang bagi pilot, tetapi tidak berbahaya, karena jika berbahaya, saya tidak akan terbang," katanya.

Dorji menekankan pentingnya pengetahuan lanskap sekitar. Jika salah sedikit, pilot bisa mendarat di atas rumah seseorang.

"Di Paro, Anda benar-benar perlu memiliki skill dan kompetensi area pengetahuan lokal," ujarnya.

Bhutan, yang terletak di antara China dan India, lebih dari 97% wilayahnya berupa pegunungan. Ibu kota Thimpu berada di ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut.

>>> Ada yang Turun, Ini Update Harga Terbaru BBM per 1 Juli 2026

"Di ketinggian yang lebih tinggi, udaranya lebih tipis, sehingga pesawat harus terbang lebih cepat," jelas Dorji, yang kini juga melatih pilot.