Para peneliti menemukan bukti kehidupan mikroba yang bertahan selama 180 juta tahun di kegelapan total dasar laut.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Geology pada 3 Desember 2025 oleh tim yang dipimpin Rowan Martindale.

>>> Demi Jadi Imam Masjid, Pemain Maroko Mau Pensiun usai Piala Dunia

Awalnya, saat mendaki lapisan batuan turbidit di Maroko, Martindale melihat pola aneh pada permukaan batu.

Tekstur tersebut menyerupai kulit gajah dan ternyata merupakan jejak fosil dari lapisan mikroba purba.

Analisis menunjukkan koloni mikroba ini tumbuh di kedalaman lebih dari 180 meter, tempat sinar matahari tidak pernah mencapai.

Bertahan Tanpa Sinar Matahari

Karena fotosintesis tidak mungkin dilakukan, mikroba tersebut mengandalkan kemosintesis untuk menghasilkan energi.

Proses ini memungkinkan bakteri memanfaatkan reaksi kimia, mirip dengan komunitas di lubang hidrotermal laut dalam.

Pengujian kimia menunjukkan lapisan sedimen di bawah fosil mengandung kadar karbon tinggi, menandakan aktivitas biologis yang terkonsentrasi.

Tim membandingkan fosil dengan rekaman dari kendaraan bawah laut di dekat Point Dume, California.

Pada kedalaman lebih dari 700 meter, lapisan bakteri kemosintetik hidup membentuk pola yang sama dengan fosil di Maroko.

Peran Longsor Bawah Laut

Para peneliti meyakini longsor bawah laut berperan penting dalam mengawetkan lapisan mikroba yang rapuh.

>>> Penyandang Diabetes Indonesia Capai 20,4 Juta, Terapi Baru untuk DM Tipe 2 Hadir

Setiap longsor membawa bahan organik dan nutrisi ke dasar laut, sekaligus mengurangi oksigen di sedimen.

Kondisi rendah oksigen ini mencegah hewan penggali, memberi bakteri waktu untuk membentuk lapisan.

Meskipun longsor berikutnya sering mengikis koloni, kadang-kadang longsor mengubur lapisan dengan bersih, meninggalkan jejak di batuan.

Implikasi bagi Pencarian Kehidupan Purba

Temuan ini mendorong para paleontolog untuk memeriksa kembali formasi batuan laut dalam di seluruh dunia.

Selama ini, lingkungan tersebut sering diabaikan dalam pencarian tanda-tanda kehidupan awal.

Martindale menduga fosil di kegelapan ini jauh lebih umum daripada catatan resmi yang ada.

Para ilmuwan belum memiliki kerangka kerja standar untuk membedakan tekstur biologis dari tekstur akibat arus air biasa.

Tim berencana menguji mekanisme pengawetan ini dengan membuat longsor turbidit di laboratorium.

>>> Ramalan Zodiak Juli 2026: Leo, Taurus, dan Libra Paling Beruntung

Dengan mengamati bagaimana lapisan mikroba modern terlipat di bawah sedimen, mereka berharap menyediakan alat identifikasi yang andal.