Trump Tuding Perusahaan Minyak AS Sengaja Tahan Harga Bensin, Minta Investigasi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tuduhan keras kepada perusahaan-perusahaan minyak besar. Ia menilai mereka sengaja mempertahankan harga bensin tetap tinggi meskipun biaya minyak mentah mulai menurun.
Trump menyebut masyarakat menjadi korban praktik yang tidak adil. Ia pun meminta aparat hukum menyelidiki kondisi tersebut.
>>> Prabowo Klaim Kantongi Nama Pembiaya Demo, Beri Peringatan
"SPBU dan perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka bayarkan," ujar Trump, dikutip Kamis (25/6).
Departemen Kehakiman AS kini diminta segera melakukan penyelidikan terhadap perusahaan energi yang diduga mengambil keuntungan berlebihan dari kondisi pasar.
Namun, belum ada konfirmasi resmi terkait dimulainya investigasi tersebut.
Pernyataan Trump muncul saat harga bensin masih bertahan di kisaran US$3,93 di AS.
Padahal, ketegangan di Timur Tengah yang sempat memicu lonjakan harga energi mulai mereda setelah pembicaraan damai dan dibukanya Selat Hormuz.
>>> Akademi Angkatan Laut AS Kembali Mewajibkan Rambut Pendek untuk Taruni Baru
Trump menilai perusahaan energi seharusnya segera menyalurkan manfaat penurunan biaya minyak mentah kepada konsumen. Tingginya harga bensin selama beberapa bulan terakhir telah membebani rumah tangga Amerika.
Sebagian pengendara bahkan harus mengeluarkan tambahan biaya lebih dari US$300 per bulan hanya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan.
Trump menjadikan isu harga energi sebagai salah satu fokus utama pemerintahannya karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat.
Ia juga berupaya meyakinkan publik bahwa kondisi ekonomi mulai membaik, namun manfaat tersebut belum sepenuhnya dirasakan selama harga bensin masih tinggi.
>>> Trump Murka Usai Senat AS Loloskan Resolusi Batasi Perang Iran
Tuduhan Trump terhadap perusahaan minyak diperkirakan akan memicu perdebatan baru di AS, terutama terkait mekanisme pembentukan harga energi dan keuntungan yang diperoleh perusahaan minyak besar di tengah ketidakpastian pasar global.
Update Terbaru
Netflix Rilis Enola Holmes 3 dengan Sutradara Baru Philip Barantini
Rabu / 01-07-2026, 14:22 WIB
Belgium vs Senegal di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 14:22 WIB
Ekuador Lolos ke 32 Besar Piala Dunia Usai Kalahkan Jerman
Rabu / 01-07-2026, 14:21 WIB
Colin Farrell Bergabung dengan Cast Film Netflix Bad Bridgets
Rabu / 01-07-2026, 14:21 WIB
Profil BTR Finn: Roamer Agresif Bigetron yang Bawa Tim Juara MPL Season 17
Rabu / 01-07-2026, 14:21 WIB
Oppo Reno 16 Hadirkan AI Snap Key yang Satukan ChatGPT, Gemini, dan Perplexity
Rabu / 01-07-2026, 14:21 WIB
Pikat Gen Z, Tren Busana Muslim Kini Beralih ke Warna Ekspresif dan Layering
Rabu / 01-07-2026, 14:21 WIB
Shenina Cinnamon Pamer Baby Bump Makin Besar, Tampil Seksi dengan Tank Top Lace
Rabu / 01-07-2026, 14:20 WIB
Serbuan Mobil China dan Rencana Mobil Nasional Tunda Insentif EV
Rabu / 01-07-2026, 14:20 WIB
Harga iPad dan iPhone 17 Naik di Indonesia, Ini Daftarnya
Rabu / 01-07-2026, 14:20 WIB
Mariners Lakukan Penyesuaian Roster dan Lineup Jelang Lawan Angels
Rabu / 01-07-2026, 14:15 WIB
Daftar Keluarga Raffi Ahmad yang Menjabat di Pemerintahan dan BUMN, dari Bupati hingga Komisaris
Rabu / 01-07-2026, 14:15 WIB
Trump Ubah Sistem Pinjaman Mahasiswa Federal, Berlakukan Batas Baru
Rabu / 01-07-2026, 14:15 WIB






