Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencurigai adanya praktik permainan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah belum turunnya harga bensin secara signifikan.

Kecurigaan itu muncul meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah mulai mereda.

>>> Realisasi Beras SPHP Bapanas Capai 47,56 Persen per 27 Juni 2026

Trump menilai harga bensin yang masih tinggi tidak lagi mencerminkan kondisi pasar global.

Menurutnya, penurunan harga minyak mentah seharusnya sudah diikuti dengan penurunan harga di tingkat konsumen.

"Harga bensin harus diturunkan SEGERA!" tegas Trump, dikutip Rabu (1/7).

Ia menilai harga yang masih berlaku di stasiun pengisian bensin terlalu mahal, bahkan setelah harga minyak mentah kembali ke level sebelum pecahnya perang antara AS dan Iran.

Tanpa menyebut bukti atau pihak tertentu, Trump mengisyaratkan adanya dugaan praktik pengambilan keuntungan secara berlebihan atau price gouging di kalangan penjual bahan bakar.

Menurutnya, praktik semacam itu melanggar hukum dan dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi pelaku usaha.

Trump bahkan memperingatkan para pengecer akan menghadapi "masalah besar" apabila tetap mempertahankan harga yang dinilai tidak wajar.

Presiden AS tersebut berharap harga bensin dapat ditekan hingga sekitar US$2,50 per galon.

Angka itu lebih rendah dibandingkan rata-rata harga sekitar US$2,93 per galon sebelum pecahnya konflik dengan Iran.

Namun, berdasarkan data pemantau harga, rata-rata harga bensin nasional hari ini masih di kisaran US$3,85 per galon di Amerika Serikat.

>>> Wamenhan Ajak Bersyukur atas Kekayaan Alam Indonesia yang Melimpah

Meski turun dibandingkan pekan lalu yang mencapai US$4,02 per galon, harga tersebut masih jauh di atas target yang diinginkan Trump.