Diabetes dan Hipertensi Picu Kerusakan Ginjal Tanpa Gejala Medis
Penyakit ginjal kronis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas. Diabetes dan tekanan darah tinggi menjadi penyebab utama karena merusak saringan ginjal secara perlahan.
Banyak pasien tidak menyadari kondisinya karena tidak merasakan nyeri. Padahal, kadar gula darah dan tensi yang tinggi menjadi faktor risiko utama.
>>> Jennifer Lopez Alami Kelumpuhan Mendadak Akibat Kelelahan Ekstrem
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), diabetes dan hipertensi adalah penyebab utama gagal ginjal di dunia.
Dr. Reetesh Sharma, Ketua Nefrologi dan Transplantasi Ginjal dari Rumah Sakit Yatharth, India, mengingatkan bahwa masalah ginjal bisa tanpa gejala hingga tahap akhir.
Ia menekankan pentingnya pemantauan bagi penderita diabetes atau hipertensi.
Tanda-Tanda Kerusakan Ginjal yang Sering Diabaikan
Pembengkakan di pergelangan kaki atau area mata sering dianggap sebagai efek penuaan atau kelelahan. Padahal, ginjal yang rusak tidak efektif membuang cairan, menyebabkan penumpukan.
Dr. Sharma menjelaskan bahwa pemeriksaan medis diperlukan jika ada bekas kaus kaki dalam di kulit, sepatu terasa sempit, atau wajah sembap saat bangun pagi.
Perubahan urine juga menjadi indikasi. Air seni yang keruh, berbusa pekat, atau bercampur darah menandakan kebocoran saringan ginjal.
>>> IHSG Melemah ke 6.172,34, Tertekan Sentimen Global dan Domestik
Busa pekat menunjukkan adanya protein yang bocor, disertai peningkatan frekuensi buang air kecil di malam hari.
Kelelahan ekstrem yang tidak membaik setelah istirahat bisa disebabkan oleh penumpukan racun dalam darah.
Dr. Sharma menambahkan bahwa penderita masalah ginjal sering merasa lelah, lesu, kehilangan nafsu makan, mual, atau mengalami penurunan berat badan tanpa sebab.
Kulit kering dan gatal hebat juga bisa menjadi tanda.
Penurunan fungsi ginjal mengganggu keseimbangan nutrisi dan mineral, menyebabkan kulit bersisik, sangat kering, dan gatal parah yang tidak reda dengan pelembap.
>>> Pengiriman Smartphone Global 2026 Diproyeksi Turun 15 Persen
Deteksi dini melalui tes darah untuk mengukur laju filtrasi GFR dan tes protein urine sangat dianjurkan sebelum kondisi memasuki stadium akhir.
Update Terbaru
Arc Raiders Terapkan Denuvo Anti-Cheat untuk Semua Pemain, Embark Siapkan Pembaruan Lebih Besar
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Game Terakhir dari Art Director Half-Life 2 dan Dishonored Terungkap: Soulslike FPS Pertama di Dunia
Rabu / 01-07-2026, 08:57 WIB
Trump Ungkap Pendapatan Kripto Lebih dari Rp15 Triliun
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Mike Tyson Rayakan Ultah ke-60 di Miami, Dunia Tinju Hormati Legenda
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Ekuador Protes Gangguan Suporter Meksiko di Hotel Timnas
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Lebih dari 150 Orang Terinfeksi Cyclosporiasis di Michigan Tenggara
Rabu / 01-07-2026, 08:56 WIB
Pertamina Resmi Turunkan Harga BBM Nonsubsidi per 1 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Altos Computing Dorong Adopsi AI untuk Percepat Transformasi Digital di Indonesia
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Promo Kabel USB-C 3-Pack Hanya Rp100 Ribuan, Pas untuk Stok Cadangan
Rabu / 01-07-2026, 08:55 WIB
Sosialis Demokrat Tantang Petahana Demokrat di Primer Colorado
Rabu / 01-07-2026, 08:50 WIB
Nadiem Makarim Dituntut Bayar Rp809 Miliar, Harta Tak Sampai Segitu
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB
Betrand Peto Ogah Minta Maaf soal Sindiran di Medsos ke Kubu Sarwendah
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB
Latsarmil Kopdes Diubah, Biaya Rp45 Juta Per Orang Masih Misteri
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB
Roy Suryo Bantah Hubungan dengan Dokter Tifa Retak
Rabu / 01-07-2026, 08:49 WIB






