Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom Minta BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom Minta BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

uang--

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan spot Kamis, 2 April 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik yang masih memanas di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat melemah 0,12% terhadap dolar AS. Tekanan tersebut muncul seiring penguatan mata uang Amerika yang kembali diburu investor sebagai aset aman.

Tekanan Eksternal Dominasi Pelemahan Rupiah



Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini lebih dipicu faktor eksternal yang kuat, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi dalam negeri.

Menurutnya, situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketidakpastian terkait Selat Hormuz, menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi pasar keuangan global.

“Level Rp17.000 per dolar AS lebih tepat dipahami sebagai puncak tekanan pasar global, bukan tanda bahwa fondasi ekonomi Indonesia sedang memburuk,” ujar Josua dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).


Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia karena menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak laut global. Ketidakpastian di kawasan ini mendorong lonjakan biaya pengiriman serta asuransi.

Dalam situasi tersebut, harga minyak mentah acuan Brent masih bertahan di atas US$100 per barel sehingga meningkatkan tekanan harga impor bagi banyak negara.

Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas

Dalam menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia dinilai tidak perlu memaksakan rupiah berada pada angka tertentu. Fokus kebijakan moneter seharusnya diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah gejolak yang lebih luas.

“Tugas BI bukan mempertahankan angka tertentu, tetapi memastikan pelemahan rupiah tetap terkendali, pasar tetap likuid, dan tidak memicu inflasi atau kepanikan,” kata Josua.

Arah kebijakan tersebut tercermin dalam keputusan BI pada rapat Maret 2026 yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Baca juga: Panglima TNI Serahkan Santunan untuk Tiga Prajurit Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon


Berita Lainnya