Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom Minta BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom Minta BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

uang--

Langkah stabilisasi yang dilakukan BI

  • Intervensi di pasar valuta asing domestik dan luar negeri.
  • Operasi moneter yang dirancang lebih menarik bagi aliran dana masuk.
  • Penyesuaian ketentuan transaksi valuta asing mulai April 2026.
  • Penguatan pelaporan arus devisa untuk meningkatkan transparansi.

Kebijakan tersebut dinilai tepat karena sumber tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS, naiknya imbal hasil obligasi Amerika, serta perpindahan dana investor ke aset yang dianggap lebih aman.

Pemerintah Diminta Jaga Disiplin Fiskal

Selain kebijakan moneter, stabilitas rupiah juga sangat dipengaruhi kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.



Josua menilai pemerintah perlu menjaga disiplin anggaran, memastikan strategi subsidi energi tetap jelas, serta memperkuat pasokan devisa melalui peningkatan ekspor.

Koordinasi komunikasi antara pemerintah dan Bank Indonesia juga dianggap penting agar arah kebijakan ekonomi terlihat konsisten di mata pelaku pasar.

Bantalan ekonomi yang masih kuat

  • Cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 mencapai US$151,9 miliar.
  • Cadangan tersebut setara dengan 6,1 bulan kebutuhan impor.
  • Target defisit fiskal 2026 tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB.

Kepercayaan investor juga tercermin dari lelang surat utang negara pada 31 Maret 2026. Dalam lelang tersebut, penawaran yang masuk mencapai Rp58,22 triliun dan pemerintah menyerap Rp40 triliun.


Menurut Josua, stabilitas rupiah tidak hanya ditentukan oleh intervensi di pasar valuta asing, tetapi juga oleh keyakinan investor bahwa Indonesia memiliki cadangan devisa yang kuat serta kebijakan fiskal yang disiplin.

Pergerakan Mata Uang Kawasan

Pada hari yang sama, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS yang tercermin dari kenaikan indeks dolar sebesar 0,44% ke level 100.

  • Yen Jepang melemah 0,49%.
  • Ringgit Malaysia dan baht Thailand turun masing-masing 0,32%.
  • Dolar Singapura melemah 0,27%.
  • Yuan offshore dan yuan China masing-masing terkoreksi 0,25%.
  • Won Korea Selatan turun 0,16%.
  • Dolar Taiwan melemah 0,1%.

Di sisi lain, rupee India justru menguat 2,09%, sementara dolar Hong Kong relatif stabil dengan perubahan tipis 0,01%.

Apabila ketegangan geopolitik mulai mereda, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbuka karena sentimen global berpotensi membaik seiring turunnya tekanan terhadap dolar AS.


Berita Lainnya