Temuan studi menunjukkan bahwa kawasan tanpa tangkap yang diawasi dengan baik efektif memulihkan populasi hiu dan ikan besar lainnya. Faktor pembeda utama antara ekosistem sehat dan yang tertekan adalah intensitas penangkapan ikan.

Tantangan Target Global 30 Persen Laut Terlindungi

Dunia tengah mengejar target Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melindungi 30 persen wilayah laut pada 2030. Namun penelitian ini menegaskan bahwa perlindungan di atas kertas saja tidak cukup.

Sekitar sepertiga spesies hiu, pari, dan chimera kini terancam punah. Di saat yang sama, lebih dari sepertiga populasi ikan dunia mengalami penangkapan berlebih sehingga tidak mampu pulih secara alami.

Kawasan konservasi yang benar-benar bebas penangkapan ikan dapat menghasilkan efek limpahan, yakni peningkatan populasi ikan di luar batas kawasan yang pada akhirnya juga menguntungkan nelayan.

Perlindungan Ketat Dinilai Lebih Efektif

Beberapa negara seperti Palau, Niue, Seychelles, Kosta Rika, Kolombia, Cile, dan Gabon telah menerapkan perlindungan ketat pada sekitar 30 persen wilayah perairannya. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga keberlanjutan ekonomi perikanan dan pesisir.

Peneliti menekankan pentingnya pengawasan yang kuat serta perluasan kawasan tanpa tangkap, termasuk di wilayah laut lepas yang belum berada di bawah yurisdiksi negara mana pun.

Studi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi laut sangat bergantung pada seberapa ketat aturan ditegakkan, bukan sekadar pada luas wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan lindung.