Global vs Nasional

Anggota Tim Hilal Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya, menegaskan bahwa metode pemerintah tetap menggunakan hisab imkanur rukyat dengan cakupan nasional. Jika satu titik di Indonesia memenuhi kriteria, maka awal bulan berlaku untuk seluruh wilayah NKRI.

Di sisi lain, KHGT tidak membatasi wilayah. Ketika syarat astronomis terpenuhi di satu lokasi di dunia, ketetapannya berlaku global.

Urgensi Kalender Global Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama universal yang memerlukan sistem waktu global. Dengan dunia yang semakin terhubung, kalender hijriah yang berbeda-beda antarnegara dinilai tidak lagi selaras dengan realitas globalisasi.

KHGT diyakini dapat memberi kepastian jauh hari, termasuk untuk perencanaan ibadah dan kegiatan sosial. Selain itu, kalender global dinilai dapat mencegah kasus perbedaan jumlah hari puasa antarnegara.

Tantangan Implementasi

Profesor riset astronomi dan astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menilai secara astronomis KHGT setara dengan sistem kalender lain karena sama-sama berbasis kriteria ilmiah.

Menurutnya, perbedaan utama terletak pada cakupan penerapan. KHGT dirancang untuk global, sementara kalender pemerintah dan ormas lain berlaku nasional. Tantangan muncul karena kelompok yang berpegang pada rukyat memandang pengamatan hilal bersifat lokal atau regional.

Bukan Soal Akidah

Perbedaan awal Ramadhan lebih berkaitan dengan parameter teknis dan batas wilayah acuan, bukan persoalan akidah. Masing-masing pendekatan memiliki landasan dalil dan metodologi ilmiah yang dipandang sah oleh pendukungnya.

Selama belum ada kesepakatan bersama mengenai kriteria dan matlak, perbedaan kemungkinan masih akan terjadi di masa mendatang. Diskursus tentang penyatuan kalender hijriah pun terus menjadi perbincangan di kalangan ulama dan pakar astronomi.