Pada 10 Desember, Nestle menginformasikan temuan tersebut kepada otoritas Belanda, Komisi Eropa, dan negara-negara terkait, sekaligus menarik 25 produk di 16 negara Eropa. Penarikan publik kemudian diperluas pada Januari untuk merek SMA, Beba, dan Little Steps.

Langkah serupa diambil Danone yang memproduksi Aptamil dan Cow & Gate, serta Lactalis. Hingga kini, penarikan produk telah meluas ke lebih dari 60 negara.

Nestle menyatakan sumber kontaminasi berasal dari pemasok minyak asam arakidonat (ARA), suplemen yang umum ditambahkan dalam susu formula. Identitas pemasok belum diungkap, namun otoritas Inggris memastikan bahan tersebut sudah tidak lagi digunakan oleh Nestle maupun Danone.

Otoritas keamanan pangan Eropa sendiri baru menetapkan ambang batas toksin cereulide pada 2 Februari. Sebelumnya belum ada standar global karena kasusnya tergolong langka. Otoritas Inggris mencatat sedikitnya 36 laporan klinis bayi dengan gejala yang konsisten dengan paparan cereulide.

Dari sisi pasar, investor kini menunggu laporan kinerja keuangan Nestle dan Danone untuk mengukur dampak skandal ini. Analis Bernstein, Callum Elliott, menilai risiko terhadap ekuitas merek lebih signifikan dibanding penurunan pendapatan jangka pendek.

“Bagi Danone, formula bayi jauh lebih penting karena mencakup sekitar 21% dari pendapatan grup menurut perkiraan kami, dan porsinya lebih besar lagi dalam hal profitabilitas,” ujarnya.

Sepanjang tahun berjalan, saham Nestle hanya naik 1,7%, sementara Danone turun 5,5%. Kinerja keduanya tertinggal dari indeks Stoxx 600 yang menguat 4,6% di periode yang sama.