Kumpulan Khotbah Jumat 23 Januari 2026: Momentum Muhasabah dan Penguatan Takwa

Kumpulan Khotbah Jumat 23 Januari  2026: Momentum Muhasabah dan Penguatan Takwa

masjid-pixabay-

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin termasuk golongan yang beruntung. Sebaliknya, mereka yang tidak mengalami peningkatan bahkan mengalami kemunduran dalam kebaikan berada dalam kondisi merugi.

Islam menempatkan waktu sebagai amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh sebab itu, pergantian tahun menjadi saat yang tepat untuk berhenti sejenak, menimbang perjalanan hidup, dan memperbaiki arah langkah.



Al-Qur’an menegaskan agar umat Islam tidak lalai oleh kesibukan dunia. Dalam Surat Al-Hasyr ayat 18, Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk bertakwa dan memperhatikan apa yang telah diperbuat sebagai bekal untuk hari esok.

Ayat tersebut mengandung dua perintah utama yang saling berkaitan, yakni bertakwa kepada Allah dan melakukan evaluasi terhadap amal perbuatan. Takwa bukan sekadar ucapan, tetapi mencakup ketaatan total kepada Allah SWT.

Makna takwa juga meliputi kesungguhan menjaga diri dari perbuatan maksiat serta memurnikan ketaatan hanya kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya. Setiap tindakan hendaknya dipertimbangkan dampaknya bagi kehidupan yang akan datang.


Dalam tafsir para ulama dijelaskan bahwa setiap manusia diperintahkan meneliti amalnya, apakah perbuatannya menjadi penyelamat di hari kiamat atau justru mendatangkan kebinasaan. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah SWT.

Kesadaran ini mendorong umat Islam untuk tidak menunda perbaikan diri. Jika kesalahan dan dosa lebih mendominasi, maka jalan yang harus ditempuh adalah memperbanyak amal saleh, memperkuat ibadah, dan melakukan tobat dengan sungguh-sungguh.

Bulan Rajab yang mulia juga menjadi tema penting dalam khotbah Jumat awal tahun. Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah bersama Muharram, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.

Keistimewaan Rajab tercermin dari doa Rasulullah SAW agar umatnya diberkahi di bulan Rajab dan Sya’ban serta dipertemukan dengan bulan Ramadan. Rajab menjadi awal dari rangkaian persiapan menuju bulan penuh ibadah.

Para ulama menggambarkan Rajab sebagai bulan menanam amal, Sya’ban sebagai bulan menyiram, dan Ramadan sebagai bulan memanen hasilnya. Karena itu, Rajab menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amal kebajikan.

Selain itu, bulan Rajab juga dikenang sebagai waktu terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa agung ini menjadi bukti kekuasaan Allah SWT dan menguji keimanan hamba-Nya.

Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang benar dan pasti terjadi sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an. Kebenaran ini mengajarkan bahwa iman tidak hanya diukur dengan akal, tetapi juga dengan keyakinan terhadap wahyu.

Sebelum menerima perintah salat lima waktu, Rasulullah SAW disucikan hatinya. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ketika menghadap Allah SWT, seorang hamba hendaknya membersihkan hati, niat, dan lahir batin.

Bulan Rajab juga menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak tobat. Para ulama menganjurkan agar umat Islam memanfaatkan bulan mulia ini untuk meninggalkan maksiat dan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh.

Tobat yang diterima oleh Allah SWT memiliki syarat, yaitu menyesali perbuatan dosa, meninggalkan kemaksiatan, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Dengan tobat yang tulus, seorang hamba membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Melalui khotbah Jumat awal tahun 2026, umat Islam diingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu. Tahun baru hendaknya menjadi awal perubahan menuju pribadi yang lebih taat, lebih peduli, dan lebih siap menghadap Allah SWT dengan bekal amal terbaik.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya