Rupiah Terus Melemah, Bayang-Bayang Level Psikologis Rp17.000/US$ Makin Nyata

Rupiah Terus Melemah, Bayang-Bayang Level Psikologis Rp17.000/US$ Makin Nyata

uang-pixabay-

Masalah Domestik: Defisit Fiskal dan Sentimen Investor
Meski tekanan eksternal memang nyata, para analis menilai bahwa masalah internal Indonesia justru menjadi beban utama yang membuat rupiah sulit bangkit. Salah satu isu paling krusial adalah pelebaran defisit fiskal yang mencapai 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun anggaran 2025.

Angka tersebut memang masih berada di bawah batas legal 3% sebagaimana diatur dalam UU Keuangan Negara. Namun, bagi investor asing, angka tersebut sudah mendekati ambang batas aman dan menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan fiskal jangka panjang.



“Meskipun defisit fiskal 2025 tetap di bawah hukum 3%, kami menyoroti risiko jangka menengah yang lebih besar, bahwa pemerintah akan mencoba untuk memulai kebijakan yang relatif tidak lazim dan dapat memicu sentimen rupiah yang lebih bearish,” ungkap Themistoklis Fiotakis dan Mitul Kotecha, analis senior dari Barclays, dalam catatan riset terbarunya.

Kebijakan “tidak lazim” yang dimaksud kemungkinan besar merujuk pada potensi peningkatan belanja pemerintah tanpa pendapatan fiskal yang memadai, atau bahkan upaya stimulus ekonomi yang berpotensi memperlebar defisit lebih jauh di masa depan.

Dampak pada Pasar Obligasi: Imbal Hasil Melonjak
Pelemahan rupiah tak hanya berdampak pada neraca perdagangan atau biaya impor, tetapi juga memicu gejolak di pasar surat utang negara (SUN). Pada perdagangan Senin (12/1/2026), imbal hasil (yield) SUN di hampir semua tenor mengalami kenaikan signifikan—tanda bahwa investor mulai menuntut premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.


SUN tenor 10 tahun naik 50 basis poin (bps) menjadi 6,18%
SUN tenor 5 tahun melonjak 57 bps ke 5,58%
SUN tenor 4 tahun naik 51 bps menjadi 5,39%
Kenaikan yield ini mencerminkan penurunan harga obligasi, yang biasanya terjadi ketika investor melepas kepemilikannya karena khawatir terhadap stabilitas makroekonomi. Dalam konteks ini, daya tarik investasi di pasar keuangan domestik mulai memudar, terutama bagi investor asing yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan risiko fiskal.

Menjaga Stabilitas: Tantangan Besar di Awal 2026
Mendekatnya rupiah ke level Rp17.000/US$ bukan sekadar angka psikologis—ia menjadi peringatan dini bagi otoritas moneter dan fiskal. Bank Indonesia (BI) mungkin akan kembali menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai tukar, namun langkah tersebut bersifat jangka pendek.

Baca juga: Na Daehoon Tegas Bantah Tuduhan KDRT, Julia Prastini Siap Ungkap Bukti: Aku Bakal Up Semuanya!

Yang lebih dibutuhkan saat ini adalah komitmen fiskal yang kredibel, transparansi kebijakan ekonomi, serta strategi jangka panjang untuk memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri. Tanpa itu, rupiah berisiko terus tergerus, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya utang luar negeri, memperparah inflasi impor, dan menghambat pertumbuhan investasi.

Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah juga berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi seperti elektronik, kendaraan, hingga bahan pangan tertentu. Di sisi lain, pelaku usaha ekspor mungkin menikmati keuntungan jangka pendek, namun hal ini tak cukup untuk menyeimbangkan efek negatif secara makro.

Outlook: Apakah Rupiah Akan Tembus Rp17.000?
Dengan tekanan ganda dari luar dan dalam, peluang rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat sangat terbuka. Namun, banyak pihak berharap bahwa intervensi BI, koordinasi kebijakan fiskal-moneter, serta komunikasi yang jelas dari pemerintah dapat mencegah kepanikan pasar.

Yang pasti, awal tahun 2026 menjadi ujian berat bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Di tengah badai geopolitik global dan tantangan struktural domestik, stabilitas nilai tukar bukan hanya soal angka—tapi juga cerminan kepercayaan dunia terhadap masa depan ekonomi Tanah Air.

 

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya