Rupiah Terus Melemah, Bayang-Bayang Level Psikologis Rp17.000/US$ Makin Nyata

Rupiah Terus Melemah, Bayang-Bayang Level Psikologis Rp17.000/US$ Makin Nyata

uang-pixabay-

Rupiah Terus Melemah, Bayang-Bayang Level Psikologis Rp17.000/US$ Makin Nyata

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (12/1/2026), menandai pelemahan beruntun selama tujuh hari berturut-turut. Di penutupan pasar spot, rupiah ditutup di level Rp16.833 per dolar AS, melemah sebesar 0,33% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Kondisi ini memperlihatkan tekanan yang terus-menerus terhadap mata uang Garuda, sekaligus membawa rupiah semakin dekat ke level psikologis penting: Rp17.000 per dolar AS.



Yang lebih mengkhawatirkan, sejak awal tahun 2026, rupiah belum sekalipun mencatatkan penguatan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi domestik maupun global sedang berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Pelemahan rupiah kali ini bukan hanya fenomena jangka pendek, melainkan cerminan dari akumulasi risiko yang berasal dari dua sisi: eksternal dan internal.

Gejolak Global Memperparah Tekanan pada Rupiah
Di kancah internasional, situasi geopolitik terus memanas. Invasi militer AS ke Venezuela beberapa waktu lalu telah memicu gelombang kecemasan di pasar keuangan global. Belum reda, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali membara, memperkuat sentimen risk-off—yaitu kecenderungan investor untuk menjauhi aset-aset berisiko seperti mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengalihkan portofolionya ke aset safe haven, seperti dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah AS. Akibatnya, permintaan terhadap greenback meningkat, sementara tekanan jual terhadap rupiah pun tak terhindarkan.


Namun, menariknya, tidak semua mata uang Asia ikut terpuruk. Beberapa negara tetangga justru menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Baht Thailand misalnya, menguat signifikan 0,52%, disusul ringgit Malaysia (+0,21%), dolar Singapura (+0,10%), yen Jepang (+0,10%), dan renminbi China versi offshore (+0,09%).

Sebaliknya, selain rupiah yang melemah 0,17%, hanya won Korea Selatan (-0,59%) dan dolar Taiwan (-0,10%) yang juga berada di zona merah. Perbedaan performa ini menunjukkan bahwa faktor domestik Indonesia turut berperan besar dalam pelemahan rupiah.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya