Na Daehoon Tegas Bantah Tuduhan KDRT, Julia Prastini Siap Ungkap Bukti: Aku Bakal Up Semuanya!
Jule-Instagram-
Na Daehoon Tegas Bantah Tuduhan KDRT, Julia Prastini Siap Ungkap Bukti: Aku Bakal Up Semuanya!
Isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali mengguncang dunia selebriti Tanah Air. Kali ini, sorotan tertuju pada mantan pasangan selebriti Na Daehoon dan Julia Prastini—yang akrab disapa Jule—setelah sebuah tangkapan layar percakapan pribadi mereka beredar luas di media sosial.
Dalam unggahan yang viral sejak Sabtu, 10 Januari 2026, akun gosip @gosip_danu membagikan screenshot chat pribadi yang diduga berasal dari Jule. Di dalamnya, ia secara terbuka mengungkap alasan di balik perselingkuhannya: dugaan tindak KDRT yang dilakukan oleh Na Daehoon selama masa pernikahan mereka.
“Daehoon suka KDRT,” tulis Jule dalam percakapan tersebut.
Pernyataan mengejutkan itu langsung memicu gelombang reaksi publik. Netizen ramai-ramai memperbincangkan kasus ini di berbagai platform, mulai dari Twitter hingga forum komunitas online. Tak sedikit yang menyatakan simpati kepada Jule, sementara sebagian lain meminta agar tidak cepat menghakimi sebelum ada bukti konkret.
Na Daehoon Angkat Suara: “Ini Cerita yang Tidak Masuk Akal”
Menanggapi desas-desus yang kian membesar, Na Daehoon akhirnya angkat suara melalui akun Instagram resminya pada Minggu, 11 Januari 2026. Dalam unggahan berupa teks panjang, ayah tiga anak ini dengan tegas membantah seluruh tuduhan KDRT yang dialamatkan kepadanya.
“Sebenarnya ini adalah cerita yang sangat tidak masuk akal, sehingga saya merasa tidak perlu memberikan klarifikasi. Namun, karena ada beberapa pihak yang mempercayainya dan merasa khawatir, saya menyampaikan pernyataan ini secara singkat,” tulisnya.
Na Daehoon menegaskan bahwa informasi mengenai dirinya melakukan kekerasan fisik atau psikologis terhadap mantan istrinya sama sekali tidak benar. Ia juga menyesalkan penyebaran narasi yang menurutnya dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Belakangan ini saya melihat postingan terkait KDRT yang beredar di internet. Dengan tegas saya sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” lanjutnya.
Ia pun berharap agar isu ini tidak terus dikembangkan tanpa dasar yang jelas, terlebih karena hal tersebut berpotensi merusak reputasi keluarganya—terutama ketiga anak mereka yang masih dalam masa pertumbuhan.
Jule Bersikeras: “Aku Punya Bukti, dan Aku Akan Ungkap Semua!”
Namun, pernyataan Na Daehoon tampaknya belum cukup untuk meredam gejolak. Melalui Instagram Story akun pribadinya, @juliaprt7—yang kemudian di-repost oleh akun @gosip_danu—Jule menyatakan kesiapannya untuk membongkar seluruh bukti yang dimilikinya.
“Aku bakalan speak up di story Instagram, nanti aku spill bukti-bukti KDRT-nya. Tunggu aku siap-siap ya, karena aku bakal up semuanya,” ujar Jule dengan nada tegas.
Pengakuan Jule ini menjadi titik balik penting dalam narasi publik. Selama ini, ia mengaku sengaja memilih diam demi menjaga stabilitas emosional anak-anak mereka. Bahkan, saat proses perceraian berlangsung di pengadilan, ia mengklaim tidak pernah mengungkit soal KDRT.
“Aku enggak pernah datang ke pengadilan, dan enggak pernah bilang apa-apa ke pengadilan soal KDRT dan kejahatan lainnya soal mantan suami aku,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Jule menjelaskan bahwa ia dan Na Daehoon sempat memiliki kesepakatan lisan untuk tidak membahas persoalan rumah tangga mereka di ruang publik—terutama hal-hal sensitif seperti kekerasan.
“Aku sedikit pun enggak ada bilang ke pengadilan tentang KDRT, dan jujur aku sama dia sepakat buat sudah enggak usah membahas lagi demi menjaga mental anak-anak aku,” tambahnya.
Namun, kini Jule merasa bahwa waktu telah tiba untuk bersuara. Ia menyiratkan bahwa keputusannya untuk membuka mulut bukan hanya untuk membersihkan namanya, tetapi juga sebagai bentuk keadilan bagi korban KDRT lain yang masih takut bersuara.
Publik Menunggu Bukti, Psikolog Angkat Bicara
Kasus ini pun memicu diskusi luas di kalangan psikolog dan aktivis perempuan. Menurut Dr. Lina Marwati, psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, banyak korban KDRT memilih diam karena trauma, rasa malu, atau tekanan sosial—terutama jika pelaku adalah figur publik.