Potret Mengkhawatirkan: Hutan Sumatera Berubah dari Hijau Menjadi Coklat, Citra Satelit Ungkap Skala Pembalakan Liar yang Mengkhawatirkan
Potret Mengkhawatirkan: Hutan Sumatera Berubah dari Hijau Menjadi Coklat, Citra Satelit Ungkap Skala Pembalakan Liar yang Mengkhawatirkan
Bencana alam kembali menghantam Pulau Sumatera. Banjir bandang dan tanah longsor melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh dalam beberapa pekan terakhir. Namun, di balik derita ribuan warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian, muncul pertanyaan kritis: apakah bencana ini adalah akibat ulah manusia sendiri?
Sejumlah ahli lingkungan dan aktivis konservasi mulai menyoroti dugaan kuat bahwa bencana alam tersebut tidak terjadi secara alamiah semata, melainkan merupakan konsekuensi dari praktik pembalakan liar yang telah berlangsung lama di kawasan hutan Sumatera. Indikasi tersebut kian menguat setelah citra satelit terbaru menunjukkan transformasi dramatis—dari hamparan hutan hijau yang subur berubah menjadi lahan gundul berwarna coklat.
Citra Satelit Jadi Saksi Bisu Kerusakan Hutan
Pada 1 Desember 2025, akun media sosial Threads dengan nama pengguna @hengkyag2868 membagikan serangkaian citra satelit yang mengejutkan. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan perubahan drastis pada tutupan hutan di berbagai wilayah Sumatera, khususnya di perbukitan yang sebelumnya masih tertutup vegetasi lebat.
“Separah ini, ternyata Polisi Kehutanan Pemprov Sumut jadi beking para pembalak hutan,” tulis pengguna tersebut, menyertai unggahan potret satelit yang memperlihatkan wilayah hutan yang kini gundul tak berdaya.
Salah satu lokasi yang paling mencolok adalah kawasan dekat Tj Kaliang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Di sana, citra satelit menunjukkan perubahan signifikan: hutan yang dulu hijau kini berubah menjadi lahan kering berwarna coklat, mengindikasikan kehilangan vegetasi secara masif. Tak hanya itu, pengguna tersebut juga mengunggah video pendek yang menampilkan kondisi nyata di lapangan—bukit-bukit yang porak-poranda akibat penebangan liar.
Reaksi Publik: Kemarahan dan Kekecewaan atas Impunitas
Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral di platform Threads dan memicu gelombang respons dari netizen Indonesia. Banyak yang menyatakan kemarahan, kekecewaan, bahkan keputusasaan atas kondisi hutan yang terus dieksploitasi tanpa kendali.
Akun @yupiharijati menulis, “Bukan rahasia umum. Di Kalimantan pun para bos-bos kayu ilegal pasti punya bekingan aparat. Kalau nggak, ya udah ditangkap dari dulu.”
Sementara itu, akun @sukma_ammyra menyayangkan kurangnya respons dari pemerintah pusat. “Padahal sudah zaman canggih, bisa lihat perubahan kerusakan langsung via satelit. Kok bisa lolos dari pantauan pemerintah pusat? Ngapain aja kerjaan mereka kalau cek Google aja males? Kecuali kalau mereka juga semuanya bersekongkol.”
Kritik paling pedas datang dari akun @wiwiaminah, yang menyebut praktik pembalakan liar yang didukung aparat sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan. “Ini aparat yang jadi beking pembalak hutan secara tidak langsung jadi pembunuh massal. Usir dari tanah leluhurmu,” tegasnya.
Bencana Alam atau Bencana Kebijakan?
Fakta menunjukkan bahwa kerusakan hutan di Sumatera bukanlah hal baru. Sejak puluhan tahun terakhir, pulau ini terus mengalami deforestasi akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan tentu saja, pembalakan liar. Namun, apa yang membedakan situasi saat ini adalah kecepatan dan skala kerusakannya—yang kini terpantau secara real-time melalui teknologi satelit.
Menurut data Global Forest Watch, Sumatera kehilangan lebih dari 40% tutupan hutan primer sejak tahun 2000. Angka ini menjadikan pulau tersebut sebagai salah satu wilayah dengan laju deforestasi tercepat di Asia Tenggara. Padahal, hutan Sumatera bukan hanya rumah bagi keanekaragaman hayati seperti harimau Sumatera dan orangutan, tetapi juga berperan vital sebagai penyangga bencana alam.
Para ahli lingkungan menyatakan bahwa hutan memainkan peran penting dalam menyerap air hujan dan menstabilkan tanah. Ketika hutan ditebangi secara serampangan, tanah tidak lagi mampu menahan volume air yang besar—dan itulah yang memicu banjir bandang dan longsor.\
Update Terbaru
Dubai Chewy Cookie Surabaya 2026, Ini 5 Tempat Berburu Camilan Viral Bertekstur Kenyal
Minggu / 26-04-2026, 18:12 WIB
Hasil Byon Combat Showbiz Vol. 7 Belum Diumumkan, Duel Putra vs Ronal dan Winona vs Emmabell Masih Ditunggu
Minggu / 26-04-2026, 18:10 WIB
Harga Minyak Goreng Naik, PASPI Soroti Biaya Plastik dan Konflik Global sebagai Pemicu
Minggu / 26-04-2026, 18:09 WIB
TOP 35 Acara TV dan Sinetron dengan Rating Terbaik Hari ini 27 April 2026 ada Istiqomah Cinta Turun ke Posisi 3
Minggu / 26-04-2026, 18:00 WIB
DC Pinjol di Semarang Akui Laporan Fiktif Kebakaran Warung, Ini Alasannya
Minggu / 26-04-2026, 17:14 WIB
Isu Perceraian Selena Gomez dan Benny Blanco Terbukti Hoaks
Minggu / 26-04-2026, 17:12 WIB
Pemprov DKI Jakarta Gelar Pemadaman Lampu Satu Jam di Sejumlah Titik pada Hari Bumi
Minggu / 26-04-2026, 17:11 WIB
Akun Kintan Putri Menghilang Usai Namanya Dikaitkan Kasus Kekerasan Daycare Little Aresha
Minggu / 26-04-2026, 16:56 WIB
Harga Daycare Little Aresha Berapa? Kini jadi Sorotan Usai Dugaan Kekerasan Anak Mencuat
Minggu / 26-04-2026, 16:53 WIB
Apakah 1 Mei 2026 Tanggal Merah? Berikut Sejarah Kelamnya
Minggu / 26-04-2026, 16:51 WIB
Hari Buruh 1 Mei Ditetapkan sebagai Libur Nasional Ini Sejarah dan Alasannya
Minggu / 26-04-2026, 16:50 WIB
Profil Rafid Ihsan Lubis, S.H. Pimpinan Yayasan Daycare Little Aresha Jogja: Umur, Agama dan IG
Minggu / 26-04-2026, 16:44 WIB
Infinix GT 50 Pro 5G Resmi Masuk Indonesia, Usung Performa Gaming dan Harga Mulai Rp6,9 Juta
Minggu / 26-04-2026, 16:41 WIB
Samsung Galaxy A17 5G vs Redmi Note 15 5G Ini Perbandingan Spesifikasi dan Harga Terbaru 2026
Minggu / 26-04-2026, 16:40 WIB






