Titiek Soeharto Hadir di Tengah Lumpur dan Luka Pidie Jaya: Pelukan, Air Mata, dan Janji Pemulihan untuk Korban Banjir Terparah dalam Sejarah

Titiek Soeharto Hadir di Tengah Lumpur dan Luka Pidie Jaya: Pelukan, Air Mata, dan Janji Pemulihan untuk Korban Banjir Terparah dalam Sejarah

Titiek-Instagram-

Foto Bersama sebagai Simbol Solidaritas: “Kami Tidak Sendirian”
Di akhir kunjungan, Titiek berhenti di depan puing-puing sebuah rumah warga yang hancur total. Ia mengajak pemilik rumah tersebut berfoto bersama—bukan sebagai bentuk pencitraan, melainkan sebagai bukti nyata bahwa pemerintah benar-benar datang menyaksikan sendiri kerusakan yang terjadi. Foto itu, menurut warga setempat, menjadi simbol bahwa mereka tidak dilupakan.

“Kami ingin dunia tahu bahwa di balik reruntuhan ini, masih ada manusia yang butuh uluran tangan,” kata pemilik rumah itu, suaranya bergetar.



Baca juga: Profil Biodata Made Murniasih Istri Musisi Bali Nanoe Biroe yang Meninggal Dunia, Lengkap dari Umur, Agama dan IG

Pidie Jaya Butuh Lebih dari Bantuan—Butuh Harapan
Kunjungan Titiek Soeharto dan rombongan mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun dampak emosionalnya terasa jauh lebih lama. Di tengah keputusasaan, kehadiran mereka menjadi semacam cahaya—kecil, namun cukup terang untuk menyalakan kembali harapan yang sempat padam.

Pidie Jaya hari ini bukan hanya berduka atas kehilangan materi, tetapi juga atas trauma kolektif yang sulit dihapus. Namun, dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan tokoh-tokoh yang benar-benar hadir dengan hati, proses pemulihan bisa dimulai—langkah demi langkah, batu demi batu, rumah demi rumah.


Sebab di balik lumpur dan air mata, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi juga keyakinan bahwa mereka tidak sendirian. Dan pada Sabtu pagi itu, di tengah reruntuhan Blang Awe, Titiek Soeharto—bersama rombongan—telah membuktikan bahwa empati masih menjadi kekuatan paling ampuh dalam menghadapi bencana.

 

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya