Titiek Soeharto Hadir di Tengah Lumpur dan Luka Pidie Jaya: Pelukan, Air Mata, dan Janji Pemulihan untuk Korban Banjir Terparah dalam Sejarah

Titiek Soeharto Hadir di Tengah Lumpur dan Luka Pidie Jaya: Pelukan, Air Mata, dan Janji Pemulihan untuk Korban Banjir Terparah dalam Sejarah

Titiek-Instagram-

Titiek Soeharto Hadir di Tengah Lumpur dan Luka Pidie Jaya: Pelukan, Air Mata, dan Janji Pemulihan untuk Korban Banjir Terparah dalam Sejarah

Di tengah hamparan lumpur, reruntuhan tembok, dan jalan-jalan yang nyaris tak berbentuk, kehadiran Siti Hediati Hariyadi—lebih dikenal publik sebagai Titiek Soeharto—membawa nuansa berbeda di tengah duka yang melanda Kabupaten Pidie Jaya. Sabtu (29/11/2025), sosok yang juga dikenal sebagai mantan istri Prabowo Subianto tersebut datang bukan sebagai tokoh politik atau figur publik semata, melainkan sebagai bagian dari rakyat yang ingin merasakan langsung derita warga korban banjir bandang terparah yang pernah melanda wilayah itu.



Didampingi putranya, Didit Prabowo, serta dua pejabat kabinet—Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian—Titiek menyusuri Gampong Blang Awe, salah satu desa yang paling parah diluluhlantakkan badai banjir lima hari sebelumnya. Di sini, rumah-rumah yang dulu megah kini nyaris rata dengan tanah, jembatan penghubung tersapu arus deras, dan ratusan keluarga terpaksa mengungsi ke Meunasah (musala) dan Gedung Tgk. Chik Pante Geulima yang kini berubah menjadi tempat penampungan darurat.

Namun, yang paling menyayat hati bukanlah pemandangan reruntuhan itu sendiri, melainkan tatapan kosong para pengungsi—anak-anak yang kebingungan, para ibu yang kelelahan, dan para lansia yang terdiam dalam kesunyian—semuanya menyampaikan satu permohonan yang sama: “Kami ingin pulang.”

Empati Tanpa Jarak: Titiek Duduk Berlantai, Dengarkan Jeritan Hati Korban
Tanpa protokol resmi yang kaku, Titiek memilih duduk bersila di tengah para pengungsi. Ia menyapa satu per satu, memegang tangan mereka, bahkan tak segan duduk berdekatan dengan ibu-ibu yang masih mengenakan pakaian seadanya—basah, kotor, dan berlumur lumpur. Di tengah suasana yang penuh ketegangan, kehadirannya justru membawa kehangatan yang jarang dirasakan oleh para korban.


“Bu… rumah kami habis. Tolong bangunkan kami rumah, jembatan, jalan… semua hilang,” kata Eliana, seorang warga Blang Awe, suaranya pecah menahan tangis. Titiek membalas dengan genggaman tangan yang erat, seolah ingin menyampaikan bahwa ia benar-benar mendengar, memahami, dan peduli. Di sekitar mereka, ratusan pasang mata menyaksikan momen itu—beberapa menangis, beberapa menunduk, sebagian lain berdoa dalam hati.

Kehadiran Titiek tak hanya menjadi simbol dukungan moral, tetapi juga representasi dari kepedulian negara yang hadir tanpa jarak. Ia tak datang dengan janji-janji muluk, namun dengan empati yang tulus dan keberanian untuk melihat langsung kerusakan yang tak terbayangkan.

Banjir Terparah dalam Sejarah Pidie Jaya: Ribuan Jiwa Terlantar, Infrastruktur Hancur
Banjir yang melanda Pidie Jaya pada pekan ini disebut-sebut sebagai bencana terbesar sejak pencatatan sejarah di wilayah tersebut. Hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari membuat sungai meluap, menghancurkan sistem drainase, dan menyapu apa pun yang berdiri di jalurnya. Laporan awal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh menyebutkan lebih dari 1.200 rumah rusak berat, puluhan jembatan putus, dan ribuan hektar lahan pertanian tenggelam.

“Kami kehilangan semuanya dalam hitungan jam,” ujar seorang warga laki-laki yang enggan disebut namanya, berdiri di antara puing-puing rumahnya yang kini tinggal sisa tiang kayu yang miring. “Yang tersisa hanya baju di badan dan anak-anak kami. Tapi kami masih bersyukur masih diberi napas.”

Di pengungsian, suasana haru terus bergulir. Anak-anak menangis karena kehilangan mainan, orang tua cemas memikirkan masa depan, sementara para relawan—baik dari pemerintah maupun swasta—berjuang membagikan bantuan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, banyak dari mereka mengakui bahwa bantuan yang datang masih jauh dari cukup.

Janji Pemerintah: Logistik, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi Akan Segera Dikirim
Dalam kunjungannya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak akan tinggal diam. “Seluruh kebutuhan dasar pengungsi akan segera dipenuhi. Logistik, obat-obatan, tempat tinggal sementara, hingga layanan psikologis darurat sudah dalam proses distribusi,” tegas Mendagri.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Syafrie Syamsudin menambahkan bahwa TNI akan dikerahkan secara penuh untuk membantu proses evakuasi, pembersihan, dan pembangunan kembali infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan. “Kami akan bekerja siang-malam. Tidak ada waktu untuk menunda,” katanya.

Di sisi lain, Titiek Soeharto menekankan pentingnya pendekatan yang berbasis kemanusiaan dalam penanganan bencana. “Bukan hanya bantuan fisik yang dibutuhkan, tapi juga kehadiran yang bisa memberi harapan,” ujarnya, sambil sekali lagi menyeka air mata yang tak kuasa ia tahan.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya