Fakta atau Mitos? Benarkah Vaksin Astra Zeneca Berpotensi Efek Samping Langka?
Apa Itu TTS, dan Bagaimana Efek Samping Vaksin Astra Zeneca Dikaji?
Pada bulan Februari 2024, Astra Zeneca telah mengajukan dokumen kepada Pengadilan Tinggi yang mengungkapkan kemungkinan terjadinya Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS) akibat vaksin COVID-19 yang mereka produksi. TTS adalah kondisi yang dapat mengakibatkan pembekuan darah serta penurunan jumlah trombosit dalam darah.
Pada awalnya, Astra Zeneca menolak asumsi bahwa TTS terjadi akibat vaksin secara umum, namun dokumentasi yang mereka ajukan kepada pengadilan menunjukkan fakta sebaliknya. Mereka mengakui bahwa vaksin mereka dapat menyebabkan TTS dalam kasus yang sangat jarang terjadi, meskipun mekanisme penyebabnya belum sepenuhnya dipahami.
Lebih lanjut, Astra Zeneca menegaskan bahwa TTS juga bisa terjadi tanpa adanya vaksin Astra Zeneca atau vaksin lainnya, dan penyebabnya dalam setiap kasus perlu diteliti oleh para ahli dengan bukti yang solid.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah kasus Jamie Scott, yang mengalami cedera otak permanen setelah mengalami pembekuan darah dan pendarahan di otak setelah menerima vaksin pada April 2021.
Pengacaranya menyalahkan vaksin Astra Zeneca, menganggapnya cacat dan berlebihan dalam kemanjurannya, serta mengaitkan kondisinya dengan Vaccine-Induced Immune Thrombocytopenia and Thrombosis (VITT), yang merupakan bagian dari TTS.
Meskipun demikian, Astra Zeneca tetap menyatakan bahwa vaksin mereka telah melewati sejumlah uji klinis dan data-data menunjukkan keamanan serta manfaatnya yang signifikan dibandingkan dengan resiko efek sampingnya yang sangat jarang terjadi.
Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI) menyimpulkan bahwa sindrom TTS setelah penggunaan vaksin Astra Zeneca merupakan efek samping yang sangat jarang terjadi.
Hinky Satari, Ketua Komnas PP KIPI, menjelaskan bahwa data efek samping TTS yang jarang terjadi ini didasarkan pada hasil uji klinis vaksin COVID-19 yang melibatkan jutaan orang, dan bila terjadi, efek samping ini sangat langka dan berpotensi serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan surveilans aktif terhadap vaksin Astra Zeneca dan vaksin lainnya selama satu tahun untuk memantau efek sampingnya. Surveilans aktif ini telah dilakukan oleh Komnas KIPI, Kementerian Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan dalam periode Maret 2021 hingga Juli 2022 di tujuh provinsi, melibatkan 14 rumah sakit dengan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai.***
Update Terbaru
Penjualan Ritel AS Mei 2026 Melonjak 0,9%, Lampaui Ekspektasi Pasar
Rabu / 17-06-2026, 22:30 WIB
Erling Haaland Cetak Dua Gol dan Jaga Rekor Debut Bersejarah
Rabu / 17-06-2026, 22:28 WIB
PWNU Jateng dan DIY Tolak Pembatasan Keanggotaan Ahwa
Rabu / 17-06-2026, 22:28 WIB
Portugal vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Rúben Dias Absen
Rabu / 17-06-2026, 22:25 WIB
DPRD Kota Malang Akui Kesalahan Cetak Bukti Laporan WhatsApp
Rabu / 17-06-2026, 22:24 WIB
Bonek Padati Gelora 10 November Sambut HUT ke-99 Persebaya
Rabu / 17-06-2026, 22:24 WIB
Arema FC Permanenkan Hansamu Yama dan Pulangkan Hamzah Titofani
Rabu / 17-06-2026, 22:20 WIB
Ruben Dias Dipastikan Absen di Laga Perdana Portugal vs Kongo
Rabu / 17-06-2026, 22:20 WIB
DPRD Kota Malang Janji Salurkan Aspirasi Mahasiswa ke DPR RI
Rabu / 17-06-2026, 22:19 WIB
7 Sikap Orang dengan EQ Tinggi Saat Menghadapi Konflik
Rabu / 17-06-2026, 22:16 WIB
Google Rilis Pixel Drop Juni 2026, Perluas Fitur AI ke Perangkat Lawas
Rabu / 17-06-2026, 22:16 WIB
Sistem Multi Level Campaign Handler Permudah Kelola Jaringan Afiliasi
Rabu / 17-06-2026, 22:16 WIB
Polrestabes Surabaya Sekat Tujuh Pintu Masuk Jelang HUT Persebaya
Rabu / 17-06-2026, 22:14 WIB
Mitsubishi Perlihatkan Pajero Baru ke Dealer AS, Siap Kembali sebagai Montero
Rabu / 17-06-2026, 22:12 WIB






