Fenomena Gunung Es dan Budaya "Menutup Aib"

Tragedi di Desa Bancong ini seolah menjadi tamparan keras bagi masyarakat. Dr. Hermansyah, M.Si, seorang sosiolog dari Kalimantan Barat, menilai peristiwa ini adalah "alarm keras" yang menyoroti bagaimana persoalan keluarga sering kali dipandang secara keliru sebagai urusan privat yang harus disembunyikan.
 
"Kita sedang berhadapan dengan fenomena gunung es. Tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, beban pengasuhan anak, hingga dugaan pengkhianatan dalam pernikahan, bisa menumpuk menjadi bom waktu jika tidak ada ruang aman untuk bercerita," ujar Dr. Hermansyah.
 
Ia menyoroti budaya memendam masalah yang masih sangat mengakar di masyarakat. Rasa malu, takut dicap sebagai istri yang tidak becus, hingga kekhawatiran akan terbukanya "aib keluarga" membuat banyak perempuan memilih menelan pahitnya penderitaan sendirian.
 
"Sering kali lingkungan atau tetangga baru menyadari seseorang sedang berada di titik terendah setelah tragedi terjadi. Ini menunjukkan lemahnya sistem pendukung (support system) di sekitar kita. Kita butuh budaya saling peduli, bukan saling menghakimi," tambahnya.
 

Sintang|Instagram|
 

Bahaya Media Sosial dan Etika Berduka

Viralnya voice note korban menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini memancing empati; di sisi lain, ini adalah bentuk pelanggaran privasi yang mendalam.
 
Dr. Hermansyah mengimbau agar publik tidak menjadikan rekaman tersebut sebagai alat untuk menyimpulkan motif, apalagi menggunakannya untuk menyerang pihak-pihak yang terlibat secara sepihak di media sosial.
 
"Media sosial jangan berubah menjadi ruang pengadilan jalanan. Spekulasi liar hanya akan menambah luka keluarga yang ditinggalkan. Yang mereka butuhkan saat ini adalah privasi, ruang untuk berduka, dan dukungan, bukan penghakiman dari orang-orang yang tidak mengerti utuh duduk perkaranya," tegasnya.