Meski sang empunya akun sudah "kabur" dengan memprivatkan akun, jejak digital tak bisa dibohongi. Banyak warganet yang telah lebih dulu menangkap layar (capture) unggahan-unggahan kontroversial tersebut.

Salah satu bukti yang paling menyita perhatian adalah foto deretan jirigen berisi minyak yang berjejer rapi. Dalam keterangan foto tersebut, Dea dengan nada sombong menuliskan, "Papaku beli minyak 15 jirigen."

Tak berhenti di situ, Dea juga membagikan tangkapan layar obrolan di grup WhatsApp keluarga. Dalam chat tersebut, terlihat jelas aliran gaya hidup hedonisme, mulai dari pembagian tiket pesawat untuk liburan ke luar negeri, hingga pamer pembelian kendaraan mewah. Gaya bicaranya yang dinilai arogan dan "ala-ala Orang Kaya Baru" (OKB) langsung menjadi bahan bakar amarah warganet.

Empati yang Hilang di Tengah Bencana Aceh
Kemarahan publik bukan tanpa alasan. Kabupaten Gayo Lues dan sekitarnya baru saja diterjang bencana banjir bandang yang meluluhlantakkan sarana dan prasarana publik. Banyak warga yang masih mengungsi, kehilangan harta benda, dan kesulitan mendapatkan akses BBM di tengah kondisi jalan yang rusak parah.

Di saat rakyat menjerit kesulitan mencari bensin, anak seorang mantan pejabat tinggi daerah justru bangga memamerkan stok 15 jirigen minyak.

"Herannya anak pejabat kok pada demen pamer ya? Giliran rakyat susah cari bensin, malah bangga bapaknya nimbun 15 jirigen. Punya privilege dari jabatan ortu tapi minim rasa peka ke sekitar. Empati ilang ke mana?" tulis seorang warganet di kolom komentar dengan nada geram.

Warganet lainnya juga menyoroti sikap arogansi yang ditunjukkan Dea. "Wah gila, omongannya ala-ala OKB banget, mana wajah tidak mendukung. Angkuh parah. Pamer aja terus, nanti bapaknya diusut terus dipenjain baru nangis. Mental kayak gini harus dikasih paham!" timpal akun lain.