Mereka merasa pekerjaannya tidak lagi memberikan makna atau kepuasan. Akibatnya, keterlibatan emosional terhadap tanggung jawab yang dijalankan makin berkurang.

3. Mengalami kelelahan mental berkepanjangan.

Meski tidak selalu terlihat lelah secara fisik, individu yang mengalami quiet cracking sering merasakan kelelahan mental yang mengganggu fokus, konsentrasi, dan keseimbangan kehidupan sehari-hari.

Penyebab Quiet Cracking

Ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya fenomena quiet cracking di lingkungan kerja.

1. Kurangnya apresiasi dan dukungan dari perusahaan.

Pengakuan atas hasil kerja merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi motivasi karyawan.

Ketika usaha tidak dihargai atau minim dukungan dari atasan, rasa memiliki terhadap pekerjaan akan makin menurun.

2. Kesempatan berkembang yang terbatas.

Karyawan membutuhkan peluang untuk meningkatkan keterampilan maupun jenjang karier. Jika mereka merasa tidak memiliki kesempatan berkembang, muncul perasaan stagnan yang dapat memicu demotivasi.

3. Beban kerja yang tidak seimbang.

Baik beban kerja yang terlalu berat maupun terlalu ringan sama-sama dapat menimbulkan masalah. Beban berlebihan menyebabkan kelelahan, sedangkan pekerjaan yang terlalu sedikit dapat memunculkan kebosanan.

Keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat menjadi kunci menjaga keterlibatan karyawan.

Jadi, quiet cracking bukanlah masalah yang boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi kesejahteraan karyawan dan kinerja perusahaan.

>>> Halliday G2 Smartglasses Tinggalkan Kamera, Andalkan Tampilan Dalam Lensa

Mencegahnya sejak dini menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan berkelanjutan.