Jagat maya dan pengamat hukum kembali dihebohkan dengan kasus domestik yang berujung pada dugaan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Kali ini, sorotan publik tertuju pada keluarga besar pengusaha kondang, Artalyta Suryani.
 
Seorang perempuan, yang merupakan istri dari Rommy Dharma Setiawan—putra dari Artalyta Suryani—mendadak menjadi perbincangan hangat. Melalui sebuah pernyataan yang viral, ia mengaku menjadi korban kriminalisasi yang sistematis oleh pihak suaminya di tengah proses perceraian yang rumit.
 
Kasus ini tidak hanya menyangkut sengketa rumah tangga, namun merembet pada dugaan rekayasa kepolisian, pelanggaran privasi, hingga tawaran suap yang fantastis. Berikut adalah kronologi lengkap dan pengakuan mengejutkan sang istri yang dirangkum dari berbagai sumber.
 

Awal Mula Retaknya Rumah Tangga: Pengkhianatan di Tahun ke-5

Rumah tangga yang dibina sejak tahun 2007 dan telah dikaruniai tiga orang anak ini, menurut penuturan sang istri, mulai mengalami keretakan serius pada tahun 2012. Titik nadir terjadi ketika ia menemukan fakta pahit bahwa suaminya, Rommy, diduga memiliki hubungan asmara dengan perempuan lain berinisial NO.
 
Perselingkuhan tersebut bukan sekadar hubungan singkat. Korban mengklaim bahwa sang suami telah memiliki dua anak dari hubungan gelap tersebut. Alih-alih memperbaiki keadaan, korban justru menerima "hukuman" yang tak terduga.
 
"Setelah perselingkuhan terbongkar, bukannya bertanggung jawab, suami saya justru meminta saya pindah ke Australia. Tujuannya jelas, agar hubungan gelapnya dengan wanita lain tidak terganggu," ungkap sang istri dalam keterangannya, Rabu (15/7/2026).
 

Pengasingan di Negeri Kanguru: Biaya Selangit dan Beban Mental

Pindah ke Australia seharusnya menjadi peluang, namun bagi korban, ini adalah masa-masa penuh tekanan. Tinggal di negara dengan biaya hidup tinggi, ia harus menanggung beban finansial yang berat sendirian.
 
Sang suami disebut terlambat dan sering lalai mengirimkan nafkah. Padahal, salah satu dari tiga anak mereka merupakan penyandang kebutuhan khusus (special needs) yang membutuhkan perawatan dan biaya terapi yang tidak sedikit.
 
"Total pengeluaran keluarga di Australia saat itu bisa mencapai sekitar Rp1,3 miliar per tahun. Itu belum termasuk biaya medis anak. Saya kesulitan ekonomi, sementara suami lambat kirim uang," tambahnya.
 
Di tengah himpitan ekonomi, korban sempat mengusulkan solusi win-win: memindahkan anak-anak kembali ke Indonesia untuk efisiensi biaya. Namun, usulan logis ini ditanggapi dingin dan tidak direspons oleh sang suami.