Upaya Menutupi Jejak: Karpet, Boneka, dan Pengharum Ruangan

Setelah memastikan bahwa AS telah meninggal dunia, MZ tidak segera melaporkan kejadian tersebut atau mencari bantuan medis. Sebaliknya, ia memilih jalan yang lebih gelap: menutupi kejahatannya.
 
Pelaku dengan sigap menyembunyikan jasad pacarnya di dalam kamar kos tempat kejadian perkara. Tidak berhenti di situ, dalam upaya yang lebih terencana untuk mengelabui lingkungan sekitar, MZ memindahkan jenazah korban ke kamar kosong di sebelah kamar utamanya.
 
Untuk menyamarkan keberadaan jasad tersebut, pelaku melakukan tindakan yang sulit dibayangkan nalar sehatnya. Ia menutupi tubuh korban dengan sebuah karpet yang dilipat secara rapi, lalu menimpanya dengan sejumlah boneka milik korban. Tata letak yang seolah "normal" ini dirancang khusus untuk menghindari kecurigaan pemilik kos maupun tetangga yang mungkin lewat atau memeriksa kamar.
 
Lebih mengerikan lagi, menyadari bahwa proses pembusukan akan menghasilkan bau yang tidak sedap, MZ mengambil langkah preventif yang dingin dan kalkulatif. Ia menggunakan alat penyaring udara (air purifier) di dalam ruangan untuk menetralisir dan mengurangi bau busuk yang mulai menyengat dari jasad korban. Tindakan ini menunjukkan tingkat kesadaran penuh pelaku untuk mempertahankan ilusi bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi di balik pintu kamarnya.
 

Fakta Mencekam: Kekasih Baru Menginap, Mengeluh Bau, Lalu Dimarahi

Puncak dari kekejaman dan ketidaksensitifan pelaku terungkap dari keterangan saksi baru. Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa hanya tiga hari sebelum akhirnya ditangkap, MZ diketahui telah menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan lain berinisial DP.
 
Dalam pemeriksaan, DP memberikan kesaksian yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia mengaku sempat diajak oleh MZ untuk menginap di kos tersebut pada Sabtu, 11 Juli 2026. Bayangkan situasi psikologis yang harus dihadapi DP: berada dalam satu bangunan yang sama, mungkin hanya berjarak beberapa meter, dari jasad kekasih sebelumnya yang sedang membusuk.
 
Selama menginap, DP mengaku sempat mencium dan mengeluhkan adanya bau tak sedap yang menyelimuti area sekitar kamar. Secara wajar, ia pun menanyakan sumber bau tersebut kepada MZ. Alih-alih memberikan penjelasan yang masuk akal atau menunjukkan kekhawatiran, reaksi MZ justru di luar dugaan. Pelaku marah dan menunjukkan sikap defensif yang agresif ketika pertanyaannya mengenai bau tersebut dilontarkan.
 
Kemarahan MZ saat itu kini menjadi potongan puzzle penting bagi penyidik. Reaksi emosional yang tidak proporsional tersebut menjadi indikator kuat bahwa pelaku sedang berusaha keras menutupi sesuatu yang besar, yang pada akhirnya mengarah pada penemuan jasad dan pengungkapan kasus ini.