Budaya Panggilan Nama dan Detak Jantung yang Tak Terkendali

Puncak ketegangan romantis dalam adegan ini terjadi ketika giliran Soo Bin untuk bertanya balik tentang mimpi Yi Jae. Namun, saat Soo Bin dengan polos memanggil nama depan Yi Jae, waktu seolah berhenti.
 
Yi Jae mendadak terdiam. Jantungnya berdebar kencang, sebuah reaksi yang ia coba mati-matian disembunyikan. Sebagai pemuda yang dibesarkan di Provinsi Gyeongsang dengan budaya yang lebih kaku dan hierarkis, Yi Jae tidak terbiasa dengan gaya bicara orang Seoul yang cenderung lebih santai dan egaliter seperti Soo Bin.
 
Setelah terlihat gugup dengan gestur yang menggemaskan, Yi Jae akhirnya mengeluh, “Cowok-cowok dari Seoul terlalu mesra [dalam cara bicara mereka].”
 
Ia kemudian memberikan sebuah "tips" penting dengan nada sok tahu untuk menutupi rasa gugupnya: “Boleh aku beri tips? Di sini, kamu akan mendapat masalah besar jika dengan ceroboh memanggil orang hanya dengan nama depan mereka, bukan nama lengkap mereka. Semua orang akan mengira kamu menyukai mereka. Hati-hati.”
 
Nasihat ini tentu saja mengandung makna tersirat dalam budaya Korea, di mana memanggil nama depan tanpa akhiran kehormatan adalah tanda keintiman yang sangat personal. Namun, alih-alih takut, Soo Bin justru melakukan hal yang membuat Yi Jae kelabakan.
 
Soo Bin menatap Yi Jae, memberikan senyuman manis yang menawan, dan berkata, “Oke, Yi Jae.”
 
Mendengar namanya dipanggil lagi dengan senyuman itu, Yi Jae yang salah tingkah langsung bersikap tsundere. “Sudah kubilang jangan lakukan itu! Dan jangan tersenyum seperti itu juga!” serunya sambil memalingkan wajah, menandakan bahwa pertahanan hatinya mulai runtuh.