Cak Conk mengenang almarhum sebagai sosok dengan pendirian yang teguh dan idealisme yang nyaris tak tertandingi. Ketika Persebaya mengalami periode paling kelam antara tahun 2010 hingga awal 2017, klub tersebut terbelah, tidak diakui oleh federasi (PSSI), dan mati suri. Ribuan Bonek kehilangan rumah mereka.

Namun, di tengah keputusasaan itu, Andie Peci tampil ke depan. Bersama elemen suporter lainnya, ia tidak hanya berteriak di tribun, tetapi juga duduk di meja perundingan. Ia menggunakan kepiawaian bernegosiasi dan mobilitasnya yang tinggi untuk memperjuangkan hak hidup Persebaya.

"Dia sosok yang kuat, idealismenya tinggi dalam hal memperjuangkan Persebaya sampai kembali diakui. Sulit untuk menandingi kepiawaiannya, mobilitasnya dalam bernegosiasi dan melakukan pergerakan untuk mengembalikan Persebaya ke kancah tertinggi," kenang Cak Conk.

Berkat darah dan air mata yang ditumpahkan oleh Andie Peci dan rekan-rekannya, Persebaya akhirnya berhasil memulihkan status keanggotaan dan kembali berlaga di kasta tertinggi sepak bola nasional pada awal 2017. Persebaya hidup kembali, dan Andie Peci adalah salah satu arsitek kebangkitan tersebut.

Dua Medan Juang: Stadion dan Pabrik
Kepergian Andie Peci tidak hanya meninggalkan duka di tribun hijau, tetapi juga di pabrik-pabrik dan jalanan tempat para buruh memperjuangkan haknya. Di luar dunia sepak bola, almarhum adalah Sekretaris Jenderal KASBI, sebuah organisasi yang dikenal vokal dan konsisten membela hak-hak pekerja.

Di mata para buruh, Andie Peci adalah organisator yang tak kenal lelah. Ia memimpin berbagai aksi advokasi, demonstrasi, dan perundingan demi upah yang layak, jaminan sosial, dan perlindungan bagi kaum pekerja. Semangat juang yang ia tunjukkan di dalam gedung PSSI untuk menyelamatkan Persebaya, adalah semangat yang sama ia tunjukkan di gedung-gedung pemerintahan untuk menyelamatkan nasib buruh.