Untuk memahami mengapa insiden ini begitu krusial, kita perlu membedah kronologi kejadian pada menit ke-72 tersebut. Saat itu, Swiss baru saja berhasil menyamakan kedudukan dan momentum perlahan mulai berpihak pada La Nati.
 
Dalam sebuah perebutan bola di area tengah lapangan, terjadi duel fisik antara Embolo dan gelandang Argentina, Leandro Paredes. Embolo terjatuh dan memeluk kakinya, memohon wasit asal Portugal, João Pedro Silva Pinheiro, untuk memberikan tendangan bebas dan hukuman bagi Paredes.
 
Awalnya, Pinheiro yang berada dalam posisi cukup dekat dengan insiden meyakini bahwa Paredes melakukan pelanggaran. Kartu kuning pun dihunuskan untuk pemain Argentina tersebut. Namun, suara dari ruang VAR yang dioperasikan oleh Guillermo Pacheco menghentikan langkah Pinheiro.
 
Pacheco menyarankan wasit untuk meninjau ulang tayangan lambat (slow-motion) di layar pinggir lapangan. Hasilnya? Sebuah fakta yang mengubah segalanya. Rekaman menunjukkan bahwa tidak ada kontak signifikan dari Paredes. Embolo dinilai telah menjatuhkan diri lebih dulu sebelum kontak fisik terjadi, sebuah tindakan yang oleh protokol FIFA dikategorikan sebagai simulasi untuk memancing keuntungan.
 

Hukuman Ganda: Pembatalan dan Pengusiran

Protokol VAR yang ketat memberikan konsekuensi hukum yang jelas. Wasit Pinheiro tidak hanya membatalkan kartu kuning Leandro Paredes, tetapi juga menghukum Embolo.
 
Masalah bagi Embolo, ia telah lebih dulu mengantongi satu kartu kuning di babak pertama akibat pelanggaran taktis. Maka, kartu kuning kedua yang ia terima atas tuduhan simulasi tersebut otomatis berubah menjadi kartu merah langsung.
 
Keputusan ini sontak memicu protes dari skuad Swiss, namun wasit tetap pada pendiriannya. Embolo harus meninggalkan lapangan lebih cepat dari yang dijadwalkan, meninggalkan rekan-rekannya yang harus bermain dengan 10 orang selama sisa waktu normal hingga perpanjangan waktu.