Rekam Jejak Gemilang: Dari Meja Bankir Menuju Kursi Bupati

Jauh sebelum namanya tercoreng oleh kasus hukum, Etik Suryani memiliki rekam jejak profesional yang sangat mentereng. Lahir di Surakarta pada 15 Maret 1963, Etik bukanlah sosok yang instan dalam meniti karier.
 
Lulus dari pendidikan tinggi di bidang ekonomi dan manajemen, Etik memulai kariernya di sektor perbankan pada tahun 1983. Ia bergabung dengan Bank Bumi Arta Tbk di Surakarta. Selama hampir tiga dekade atau sekitar 27 tahun, Etik mengabdikan dirinya di dunia finansial.
 
Kecerdasannya dalam mengelola angka dan manajemen membuat kariernya melesat. Ia sempat menduduki posisi strategis sebagai Kepala Cabang. Latar belakang sebagai seorang bankir ini seharusnya menjadi modal kuat bagi Etik untuk memahami tata kelola keuangan daerah yang akuntabel dan transparan. Sebuah ironi besar, ketika seorang ahli keuangan justru tersandung kasus yang berkaitan dengan uang.
 

Transisi ke Dunia Politik dan Peran sebagai "Ibu Kabupaten"

Titik balik kehidupan Etik terjadi pada tahun 2010. Kala itu, ia memutuskan untuk pensiun dari dunia perbankan dan beralih peran mendampingi suaminya, H. Wardoyo Wijaya, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sukoharjo.
 
Selama kurang lebih satu dekade, Etik dikenal luas sebagai Ketua Tim Penggerak PKK (TP-PKK) Kabupaten Sukoharjo. Di tangan dinginnya, program-program pemberdayaan keluarga dan kesejahteraan masyarakat di Sukoharjo berjalan cukup baik. Citra sebagai "Ibu Kabupaten" yang merakyat dan dekat dengan warga mulai melekat kuat pada dirinya.
 
Namun, darah politik tampaknya tak bisa dibendung. Pada tahun yang sama, 2010, Etik mulai mencicipi dunia politik praktis. Ia tercatat menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Sukoharjo. Peran ini menjadi batu loncatan baginya untuk memahami seluk-beluk mesin politik di tingkat akar rumput.